Minggu, 10 September 2017
CINTA BERTABUR LOGIKA
Cinta itu nurani
cinta tidak bisa diukur
namun cinta bisa dirasa
cinta sejati tak bisa dibeli
tak juga bisa dijual
namun cinta bisa dinalar
karena cinta bertabur logika
Berbagai kisah kehidupan yang dibungkus secara apik dengan berbagai genre dalam sebuah buku Cinta Bertabur Logika
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=238174443376114&set=pcb.238174463376112&type=3&theater
Rabu, 23 Desember 2009
SIMBOK
Trimo ini memang anak kebangeten. Semenjak ditinggal ayahnya yang meninggal di luar negeri sewaktu jadi TKI. Trimo seperti kehilangan figur. Sebagai anak tunggal ia tidak melihat kondisi orang tuanya yang masih kekurangan. Masuk ketegori keluarga miskin, penerima BLT. Meski sekarang sudah duduk di kelas XII SMK, sikap kedewasaan Trimo belum muncul. Apa-apa masih diladeni bak anak raja. Mbok Nem sendiri tidak kurang menasehati Trimo
“Trimo, kamu itu mbok yaao melihat keadaan keluarga kita. Ngaca! Kamu itu siapa? Bapakmu saja memberi kamu nama Trimo itu biar kamu melihat keadaan kita. Jadi anak yang nrimo.” Itulah wejangan rutin mbok Nem buat anaknya. Wejangan tinggal wejangan. Kehidupan trimo pun sudah terkontaminasi teman-teman sekolahnya. Sok kaya. Membuat mbok Nem sering meratap memikirkan Trimo. Tapi itulah hati seorang ibu. Bagaimanakan tingkah Trimo, mbok Nem berusaha memenuhi semua keinginannya. Ngak peduli harus berbuat apa, yang penting Trimo mau sekolah.
“Mo…, Trimo…bangun. Sholat Subuh. Sudah jam 5.30”, mbok Nem membangunkan Trimo yang masih molor di dipan bambu. Yang dibangunkan masih saja membujur kaku. “Mo, lekas bangun. Ayam dan kambingmu belum kamu beri makan.” Kalimat itu seperti menjadi lau wajib bagi mbok Nem setiap pagi. Mbok nem juga hafal, Trimo kalau membangunkannya belum tiga kali yaa belum bangun. Sesekali siraman air terpaksa mbok Nem guyurkan ke tubuh Trimo. Kalau sudah begitu, dijamin. Trimo pasti bangun.
Memberi makan ayam dan kambing adalah kegiatan rutin Trimo setiap pagi. Itupun, untuk makanan kambingnya saja, mbok Nem sendiri yang masih mencarikan. Aktivitas rutin Trimo tak jauh dari sekolah, makan, tidur dan main. Hingga suatu saat Ujian Nasional sudah dekat.
“Le… katanya pak guru dan teman-temanmu, sebentar lagi Ujian Nasional. Belajar giat ya Mo!”
“Yaa mbok!” Jawaban singkat khas Trimo.
Ujian nasional pun berlalu, Trimo menjalaninya penuh semangat. Saban malam mbok Nem bermunajat kepada Allah swt. Memohon doa, agar anaknya berhasil menempuh Unas. Unas dilalui Trimo dengan lancar. Dan seusai pengumuman, Trimo dinyatakan lulus.
Tantangan menghadang Trimo. Hendak kemana setelah lulus? Meski ia lulusan SMK, ia masih bingung. Keahlian otomotifnya untuk apa? Ikut bengkel ia tidak biasa kerja. Penyakit malas bawaan keseharian menghinggapinya sendiri. Ia takut dengan bayang-bayang sendiri. Sering ia duduk termenung menyendiri. Menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia tidak memiliki jiwa entrepreneurs seperti yang diajarkan gurunya di sekolah? Mengapa ia tidak mencoba merantau seperti teman-teman sekolah dan tetangganya? Beberapa pertanyaan yang Trimo sendiri tidak mampu menjawabnya Kematian ayahnya sewaktu jadi TKI masih membuat dirinya trauma. Hingga mbok Nem mengetahui perubahan sikap Trimo akhir akhir ini.
“Mbok tahu kok yang kamu pikirkan. Kalau kamu terus melamun begini, kapan kamu belajar kerja? Lha mbok yoo nyoba kerja sama mas Joko di kota sana. Siapa tahu kamu nanti jadi kaya seperti mas Joko!” mbok Nem mencoba membuka wawasan Trimo.
Dengan bekal petuah dari simboknya, Trimo pun menuruti. Mas Joko adalah warga satu desa dengan Trimo yang sukses kerja di Kota. Punya showroom motor, bengkel mobil dan motor, counter HP dsb. Pokoknya mas Joko orang sukses.
Dua setengah tahun Trimo magang di bengkel mas Joko. Merasa keahliannya sudah terasah dan mempunyai modal cukup. Trimo membuka usaha bengkel sendiri dengan dua teman sekolahnya. Hoki pun berpihak pada Trimo. Dalam sekejap bengkelnya berkembang pesat. Langganannya banyak. Mereka puas dengan layanan Trimo.
Seiring pundi-pundi yang kian menumpuk, penampilan Trimo pun berubah. Ia tak lagi Trimo yang dulu. Yang culun dan lugu. Penampilaannya berubah, mengikuti trend modern. Mbok Nem sebenarnya tidak senang dengan penampilan dan perubahan perilaku Trimo.
“Mo, kamu ini mbok ya nggak usah neko-neko. Biasa saja. Syukur-syukur keuntungannya kamu tabung dan buat sodaqoh. Jangan lupa bayar zakat. Banyaknya uangmu jangan membuatmu lupa dengan akhirat. Sholat lima waktu jangan kamu tingalkan.”
“Halah, simbok ini terlalu banyak kutbah. Ini semua berkat kerja keras Trimo. Mbok. Eh Mbok, mulai besok aku manggilmya ganti yaa. Tidak simbok lagi. Gantiansaya panggil ibu atau mama. Masak ortunya anak gaul, dipanggil Mbok.”
“Nggak usah. Buat apa diganti. Aku lebih suka dipanggil simbok seperti dulu. Sama halnya mbok juga lebih suka melihat penampilam kamu seperti dulu”
Diberi nasehat Trimo malah ngacir. Pergi meninggalkan mboknya yang berdiri mematung memperhatikan polah anaknya yang mulai keluar jalur agama.
Hari-haripun berjalan. Hingga suatu saat musibah menimpa Trimo. Seluruh bengkelnya terbakar. Akibat kecerobohannya sendiri. Memperbaiki motor sambil merokok. Trimo lemas melihat bengkelnya yang tinggal arang. Mbok Nem lalu mendekat.
“Trimo, yang sabar dan tabah ya lee. Masih untung kamu selamat. Harta masih bisa di cari. Makanya bersyukrkah. Ingatlah nasibmu dulu Jangan kau lalaikan Yang Kuasa. Ini baru peringatan. Kalau kau tidak berbenah. Alloh akan memberi cobaan yang lebih berat. Dan kamu patut bersyukur punya orang tua seperti Mbok. Coba kalau orangtua mama. Kamu panggil aku mama…mama….. Memangnya arti mama itu apa. Coba kamu piker, kamu kan anak sekolah…”
“Yaa mbok… Trimo akan berubah” Trimo lalu bangkit. Menyibakkan sisa arang dan siap meretas masa depan yang lebih baik.
“Terima kasih Simbok.”
Rabu, 05 Agustus 2009
MBAH SURIP
Hari ini, Selasa 4 Agustus 2009 Indonesia kehilangan seorang seniman. Yach maut tidak pilih-pilih. Di saat orang baru mulai memetik buah kerja kerasnya, malaikat pencabut nyawa datang membawa tugas. Mengambil nyawa yang dititipkan kepada mbah Surip 60 tahun lalu. Lebih satu bulan lalu dunia juga baru di tinggal Mikhael Jackson. Sebentar lagi siapa musisi atau siapapun yang menjadi idola di masyarakat akan menyusul mbah Surip? Wallohu 'A'lam.
Satu bulan lalu saya menulis cerpe. Mengenang Jacko dan memetik pelajaran mbah Surip. Lagu Tak Gendong dan Bangun Tidur seolah memberi pelajaran bagi kita untuk hidup bekerja sama dan bekerja keras. Cerpen itu saya tulis 6 Juli, Dan kali ini saya tuangkan di blog saya sebagai kenangan untuk mbah Surip.
Selamat jalan mBah Surip. Semoga amal Mbah diterima di sisi Alloh dan mbah Surip masuk Surga.
UNTUNG ADA MBAH SURIP
Parjo tinggal sendirian. Ayahnya pergi ke Malaysia, jadi TKI. Emaknya sudah tiga tahun di Hongkong. Meraup pundit-pundi dollar. Jadilah ia sebatang kara. Kiriman kedua orang tuanya rutin tiap bulan lebih dari cukup untuk hidup. Lumayan bisa hidup mandiri. Sesekali buliknya yang beberapa meter dari rumahnya mengontrol. Maklum, Parjo sudah duduk di SMA kelas 2.
Sore itu rumah Parjo kelihatan lain. Tikar sudah digelar. Ia mengundang Lik Semi untuk masak, dibantu bulik dan seorang keponakannya. Parjo bermaksud kenduri, entah apa hajatannya. Setelah tikar dan ubo rampe kendurinya siap. Ia duduk-duduk di teras.
”Parjo, nanti yang diundang berapa?” Lik Semi bertanya.
”Lima Lik”, Parjo menjawab singkat.
”Lho, cuma lima? Katanya kenduri, yang diundang kok sedikit to Jo?”.
”Ya ndak apa-apa to Lik! Memangnya kenapa?”
”Lha biasanya kalau ngundang orang kenduri itu tiga puluh atau lebih gitu. Tiwas aku tadi nakar berasnya banyak. Kamu ndak bilang dari tadi to Jo... Parjo. Nanti yang makan siapa?” Lik Semi ngedumel mendengan jawaban Parjo.
”Sudah Lik, ndak masalah. Nanti kalau sisa, di bawa Lik Semi saja. Yang penting Lik Semi masak” Parjo njawab dengan entengnya.
Lik Semi pun pergi ke dapur. Sedang Parjo kembali duduk kembali.
Sesaat kemudian terdengar salam dari halaman ”Assalaaamu’alaikum”
”Wa’alaikum Salam. Eeeh Rudi ayo masuk. Ini undangan yang baik. Datang lebih awal. Ayo ke kamarku saja. Acaranya masih lama, habis maghrib.”
Parjo pun menjabat tangan Rudi dan langssung menariknya ke kamar. Rudi ngikut saja. Di amati sekeliling kamar Parjo.
”Wah, kamarmu asyik banget.” Dilihatnya sekeliling kamar Parjo. Di dinding, almari bahkan di atap terpasang penuh gambar. Dan gambarnya semua satu tokoh, Michael Jackson.
”Jo, ternyata kami fans berat Jacko ya. Kukira sukanya Didi Kempot ato Mansur S.”
”Ya nggak lah. Kamu kira cah ndeso sukanya produk lokalan.”
Keduanya pun gayeng bercakap-cakap.
”Jo, ngomong-ngomong kamu ngudang aku, ada apa sih.”
”Ooo itu, aku mau kirim doa, buat idolaku, Hari ini kan tujuh harinya si Jacko”
”Ha.ha. ha. Kamu mau tahlilan. Do’ain Jakho. Kamu itu apanya? Apa kamu dapat warisan dari Jacko?”
”Ya, jangan begitu Rud. Kamu itu sukanya ngejek orang. Jacko itu kan menurut berita terakhir muslim kan. Jadi apa salahnya kirim doa. Sesama muslim saling mendoakan, itu kan baik. Dapat pahala”
”Sejak kapan kamu kirim doa buat Jacko?”
”Ya, sejak kabar kematian Jacko di TV itu. Aku merasa kehilangan inspirasiku.”
”Inspirasi apa. Jacko itu kan cuma nyanyi tok. Kita beli, kita dengar dan nikmati lagunya. Inspirasi apa yang kamu peroleh?”
”Rud.. Rud. Aku kira kamu itu pintar. Ternyata pengetahuanmu tak jauh dari anak TK. Jangan biasa mengecilkan orang lain. Kamu itu tahunya Jacko cuma sedikit. Meski aku bukan apa-apanya, minimal aq mengikuti sepak terjang Jacko sejak aku SD. Sepengetahunku Jacko itu bukan sebarang penyanyi.”
Rudi jadi terdiam, tak disangkanya teman sepermainannya itu punya pengetahuan banyak. Sejenak kemudian Parjo melanjutkan ceritanya.
”Kamu tahu enggak, Jacko itu dermawan, penyayang anak-anak, anti diskriminan dan banyak lagi. Apalagi kalau kami lihat aksi panggungnya, wah nggak ada dech yang mampu menandinginya.” Parjo dengan semangat memuja bintang pujaannya.
”Tapi Jo, kamu jangan terlalu fanatik sama dia. Ambil pelajaran kisahnya si Jacko. Kalau masa kecil kurang kasih sayang, akibatnya nggak baik. Kayak kamu itu. Ditinggal kedua ortumu. Cuma dikirimi uang. Kamu bisa lupa diri.”
”Lho kok jadi nyindir aku”
””Bukan begitu maksudku. Kalau kamu terbiasa hidup kayak Jacko, perilakumu bisa kebawa. Lihat saja, seisi kamar mengepung impianmu.”
”Nggak ah. Aku ngefans, tapi aku tak akan niru gaya hidupnya. Aku bisa ngaca Rud.” Keduanya masih terus ngobrol tentang Jacko. Parjo pun mengambil remote TV. Dinyalakannya TV di kamar Parjo. Pas ada klip lagu Mbah Surip membawakan Tak Gendong. Keduanya memperhatikan tingkah mbah Surip.
”Jo, coba lihat mbah Surip. Apa nanti kalau mbah Surip mati, kamu juga mau kirim doa buat dia” Rudi masih melanjutkan omongannya.
”Mbah Surip itu asli Indonesia. Meski baru muncul, aku yakin mbah Surip tidak akan merubah dirinya. Tidak merubah warna kulitnya. Tidak meluruskan rambutnya. Dan tidak mengubah gaya hidupnya.”
”Lantas apa hubungannya dengan aku Rud?”
”Begini, Jo. Kamu itu kan sendirian di rumah. Kedua ortumu di luar banting tulang di negeri orang. Kamu, kerjanya makan, tidur, sekolah terus main. Bangun tidur, tidur lagi. Kayak lahunya mbah Surip, Bangun Tidur. Daripada kamu buang uang buat acara yang nggak wajib, mbok yaao buat persiapan sekolah atau disimpan. Sepulang ortumu dari luar, biar bangga anaknya jadi anak pintar. Bukan anak pemuja bintang.”
Parjo terdiam. Lalu ia menyahut.
”Gitu ya, lantas makanan yang sudah di masak untuk apa?”
”Jangan kuatir, dekat masjid kan ada panti asuhan. Berikan saja ke sana. Dari pada di makan di sini tidak habis. Rencanamu yang mimpin doa siapa?”
”Aku pimpim sendiri!”
”Kamu mimpin do’a. Juz’amma saja nggak khatam. Apa setan takut kalau kamu bacakan do’a. Kamu cuma hafal lagunya Jacko.”
Keduanya terbawa terbahak-bahak. Acara di rumah Parjo sore itu dibatalkan. Makanan yang dimasak itu lalu dikirim ke panti asuhan. Terima kasih mbah Surip. Kamu mengingatkan anak-anak ini dari hanya sekedar ngefans pada idolanya.
Rabu, 20 Mei 2009
CINTAKU KANDAS TERHEMPAS UNAS
(Baca di harian Radar Madiun, Selasa 12 dan 19 Mei 2009)
“Teet…Teet..Teet…Teet”, bunyi bel listrik paling kutunggu. Bel tanda pulang sekolah. Aku dan Dani langsung ke tempat parkir sepeda motor.
”Gus, apa acaramu malam Minggu,”
“Biasa, apel ke rumah Mila” jawabku ketus
“Masak mau ujian masih apel terus. Apa ortu Mila nggak nglarang? Ntar kalau belajarnya Mila terganggu, kamu bisa digantung sama calon mertuamu.”
.”Ya nggak lah! Masa calon menantu ganteng begini mau digantung. Siapa tahu kalau aku apel, semangat Mila tambah menyala-nyala. Kalau aku nggak ketemu Mila satu hari saja, rasanya kayak setahun!”
”Agus! Agus! Dasar play boy. Mila dapat kamu itu apa nggak salah. Mila itu tanpa dirimu nggak ada pengaruh, sudah pinter dari sononya. Lha kamu, status IQ-mu saja diragukan Jangan-jangan Mila kamu pelet!”
”Yaa nggak lah yaw. Inilah resiko jadi cowok ganteng. Jadi rebutan cewek-cewek, kayak Ande-Ande Lumut”. Aku pun ngloyor pergi dengan motor.
Waktu ujian nasional masih dua bulan lagi. Hari-hari aku habiskan di sekolah ikut bimbingan intensif. Pulang sekolah mampir warnet. Facebook-an sama sohib-sohib di dunia maya. Tambah kenalan. Lumayan, wajah gantengku melanglang buana. Tambah terkenal. Semakin banyak cewek yang nge-fans padaku. Selingkuh berkadar rendah. Mila kan tidak tahu. Mila tetap pacar dunia riilku.
Di tembok kamarku terpampang foto Mila. Menghadap diriku kalau aku terlentang mau tidur. Mila jadi penyemangatku. Sering aku termangu lama memandang foto Mila. Melamun membayangkan betapa bahagianya mempunyai pacar seperti Mila. Cantik, pintar, rajin dan setia. Kadang aku heran juga. Kok Mila mau pacaran sama aku. Kalau aku ganteng, itu jelas. Tapi aku tak sepintar Mila. Sesekali Mila menasehatiku agar belajar rajin. Ahh... perhatian sekali Mila padaku. Ortuku saja tak seperhatian Mila. Sibuk dengan urusan. Ayahku sibuk dengan bisnis, ibuku jadi wanita karier. Bahkan aku sendiri merasa berdosa, kadang masih tergoda nambah gebetan. Aku kan cowok, wajar punya pacar lebih dari satu. Kanjeng Doso saja istrinya banyak.
Hari-haripun berjalan semakin cepat. Unaspun kurang satu minggu.
”Agus. Gimana? Sudah siap!” Mila menyapaku sambil jalan.
”Untuk dirimu, aku selalu siap,”
”Kamu ini, yang dipikir kok cuma aku. Sesekali mikir dirimu sendiri. Biar nanti lulus. Syukur dapat nilai baik. Kabarnya unas nanti soalnya lebih sukar. Syarat nilai kelulusannya saja tinggi. Kalau nggak siap, nanti nyesal.”
”Mila, kamu kok kaya bu guru saja. Nakut-nakuti. Buktinya tiap tahun syarat kelulusannya naik, yang tidak lulus sedikit. Sekolah kita mesti 100% lulus. Aku sih nggak kuatir. Moga-moga saja kalau unas nanti yang ngawasi tidur. Aku bisa kerjasama dengan temen-temen. Atau kalau mungkin kamu bisa transfer jawaban via SMS. Waktu unas kamu bawa HP kan?”
”Nggak ah! Itu melanggar aturan. Kalau ketahuan kamu bisa kena sanksi. Kalau kita yang masih sekolah saja sudah curang, gimana kalau jadi pejabat?. Apa kata dunia?”
”Iya-ya. Apa pejabat-pejabat yang korupsi itu waktu sekolah dulunya sering curang ya. Dapat nilai baik dengan cara nggak bener. Demi nama baik menghalalkan segala cara. Keenakan curang akhirnya masuk jurang. Eh... kok jadinya nglantur jadi pengamat hukum dan politik.”
”Makanya. Jadi anak itu belajar yang bener. Jangan banyak main HP and internetan.”
”Inggih bu guru,” akupun mengiyakan nasehat Mila. Nasehat seorang kekasih hati. Meski nasehat itu sering hanya sekedar pengingat. Aku masih kalah dengan godaan nafsuku. Main-main, dan malas belajar. Padahal Mila dan teman-temanku sudah puasa HP-an and internetan. Malah Mila sudah katakan HP nya seminggu menjelang unas hingga pelaksanaan unas dimatikan.
Hingga waktu unas pun datang. Alamaaak! Yang dikatakan Mila benar. Soal unas bener-bener membuat kepala jadi panas. Jurus pamungkas jadi andalan, aji pengawuran. Bukan tanpa alasan aku ngawur. Di samping ruangku tidak ada bintang kejora buat konsultasi jawaban, pengawasnya bak pengawal kerajaan Buckhingham Inggris. Tanpa senyum, tanpa ekspresi. Dingin, bak pembunuh berdarah dingin. Diam terpaku duduk di kursi pengawas. Meski tidak hilir mudik, ruangan ujian laksana ruang penyidik. Setelah unas dilanjutkan ujian sekolah dan ujian praktek. Kalau ujian yang begini sih aku tidak kuatir. Semua kulalui dengan lancar.
Setelah itu hari-hari kuisi cari informasi masuk perguruan tinggi. Kesana-kemari mencari peluang yang mungkin dalam jangkauan kemampuan. Bukan masalah biaya, tapi aku sesuaikan kemampuan IQ dan cita-citaku kelak. Sementara Mila sudah melenggang mulus masuk perguruan tinggi lewat jalur PMDK nun jauh di sana, IPB Bogor. Akankah aku dan Mila akan seperti Acha Septiarsa dan Irwansah? Harus berpisah karena kuliah?
Sebulan lebih unas berlalu. Waktu pengumuman kelulusanpun tiba. Kali ini aku tak sesemangat seperti biasanya. Kulihat teman-temanku bersorak kegirangan. Mila hari ini tidak masuk. Dia ke Bogor mencari kos-kosan. Mila sudah pe-de lulus. Sedang aku, tak tahu. Aku masih termangu duduk di selasar kelas. Kulihat satu dua temanku menangis, tidak lulus. Aku memberanikan diri mendekat melihat pengumuman. Kucari nomor ujianku. Kucari dan terus kucari. Tapi nomorku belum ketemu. Aku terus mencari. Dani yang berada di sebelah membantuku.
”Sudah ketemu?”
”Belum,”aku menjawab dengan suara serak. Pencarian terus aku lakukan. Kutelusuri satu persatu nomor-nomor panjang yang terpampang di papan itu beberapa kali. Tapi nomorku tidak kutemukan juga.
”Agus, kelihatannya nomormu tidak ada. Kamu .... kamu... tidak lulus”, Dani yang sedari tadi membantuku mengucapkan kalimat yang paling aku takuti. ”Tidak lulus”.
Tiba-tiba saja dunia jadi gelap. Seketika aku pingsan. Hari itu menjadi hari terburuk sepanjang hidupku. Aku tidak bisa merayakan kelulusan dengan teman-temanku. Aku menjadi pasien dadakan.
Setelah itu aku mengurung diri di kamar meratapi diri. Teman-temanku sibuk daftar SPMB. Aku sendiri masih belum tahu berbuat apa. Ikut ujian kejar paket C atau ikut ujian tahun depan. Sementara Mila sudah siap kuliah di bogor.
Kebekuan pikiranku akhirnya cair. HP ku berdering. Dari Mila.
”Agus, jangan putus asa. Masih ada kesempatan di depan mata. Waktu tidak bisa diputar. Tapi waktu harus dimanfaatkan. Kita memang terpisah jauh. Tapi hati kita masih tetap dekat. Jadilah seorang pria sejati. Jangan jadi cowok yang mungkin kamu banggakan selama ini. Semoga kita selalu menjadi sahabat sejati”
Itulah beberapa kalimat yang jadi penggugah semangatku. Ternyata Mila masih memperhatikanku. Perhatian sebagai sahabat bukan sebagai pacar. Perhatian yang selama ini salah aku tafsirkan. Mila bukan sekedar cewek. Mila seorang perempuan sejati. Anak perempuan yang tidak saja enak untuk berteman. Tetapi seorang yang mampu mandiri, mau menerima kenyataan, mau nasehat-menasehati dan mampu bangkit serta membangkitkan semangat siapapun yang ada disekelilingnya.
Meski aku tidak tahu apa arti cinta sebenarnya, tetapi pelajaran berharga baru aku petik dari Mila dan unas. Cintaku sebagai cowok kepada Mila memang sudah kandas, terhempas unas. Terhempas karena diriku terlena, terbuai keegoan. Aku hanya bisa menasehati dirku sendiri ,”Wowalah Agus.... Agus! Malas belajar bisa berbuah fatal, akibatnya unaspun gagal. Nasib.....nasib. Aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi pria sejati”
