Jumat, 20 November 2015

Iklan Pakaian Dalam dengan Manekin



            Kalau kita melihat TV, ada langkah positif pada gambar siarannya. Tayangan merokok dan tubuh yang terlalu terbuka diberi gambar buram.  Langkah ini sebaiknya diikuti media cetak. Untuk berita yang memuat orang merokok dan gambar terbuka ditutup gambar kabur atau gambar lain yang menarik. Misalnya ditutup gambar bunga.
            Selain itu untuk iklan pakaian dalam jangan menggunakan model manusia. Modelnya digantikan manekin (boneka manusia). Karena jika menggunakan model manusia, gambarnya dapat berpengaruh negatif terhadap pembacanya. Apalagi kalau gambar tersebut dilihat anak-anak. Gambarnya bisa merangsang dan berdampak buruk terhadap perkembangan jiwa. Manekin yang dipakai juga jangan yang sexy. Sehingga pembaca lebih fokus terhadap pakaian yang  diiklankan, bukan kepada modelnya.. Supaya tidak membuat anggapan foto model pakaian dalam  sebagai bentuk pornografi.

Rabu, 18 November 2015

PESERTA SIMPOSIUM GURU 2015

Selamat kepada  pemenang karya terbaik simposium guru 2015. Selamat berlomba dan bersimposium.  Teguk ilmu raih prestasi. Dapat uang saku, laptop, hadiah, beasiswa S2 dan magang di luar negeri. Nama-nama karya terbaik peserta simposium dan undangan umum bisa di buka di bawah ini.



Selasa, 17 November 2015

PRAMUKA, PENGEMBANGAN DIRI YANG KOMPLIT

            Setiap tanggal 14 Agustus kita memperingati hari Pramuka. Sebagai wadah generasi muda yang suka berkarya, Pramuka telah menunjukkan darma bhaktinya bagi perkembangan pembangunan, termasuk dunia pendidikan. Tidak hanya diwujudkan dalam bentuk uniform. Tetapi berbagai kegiatan sosial kemanusiaan dan kemasyarakatan telah menunjukkan eksistensi Gerakan Pramuka. Paling tidak, anak-anak seantero nusantara ini hampir tidak ada anak yang tidak kenal pramuka.  Minimal mereka sudah terbiasa memakai seragam pramuka.
            Kombinasi pakaian kebesaran coklat muda dan coklat tua ini telah dikenal mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bahkan lembaga kepresidenan.  Berbagai even yang diselenggarakan Gerakan Pramuka menunjukkan, betapa eksisnya pramuka. Tidak hanya level nasional, tetapi juga internasional. Lord Boden Powell sendiri sebagai Bapak Pandu Dunia telah mendedikasikan hidupnya di  dunia kepanduan. Di tingkat sekolah, kegiatan pramuka sering dijadikan menu wajib kegiatan ekstra kurikuler.  Kewajiban yang sebenarnya  bertentangan dengan asas gerakan pramuka  itu sendiri yang bersifat sukarela.
Tetapi dengan melihat nilai-nilai positif yang terkandung dalam pendidikan kepramukaan.  Sudah sewajarnya sekolah mewajibkan kegiatan kepramukaan sebagai kegiatan ekstra kurikuler wajib.  Hanya masalahnya sekarang, masih eksiskah pramuka di mata anak-anak muda sekarang? Utamanya anak-anak sekolah SD sd SMA?
Bernyanyi, tepuk tangan, dan baris berbaris  seolah menjadi cirri khas pramuka.  Ciri khas yang dianggap terlalu kuno untuk masa sekarang. Anak-anak sekolah lebih suka mengekspresikan diri mereka ke bidang kegiatan yang kelihatan lebih ngetrend. Pecinta Alam, paduan suara, sport, teater, musik, out bounds, dan lain sebaginya. Apalagi dengan mengikuti kegiatan seperti itu, mereka tidak terlalu dikekang dengan aturan.  Termasuk pemakaian uniform.
Anak muda lebih suka kegiatan yang bebas dengan aturan-aturan mengikat.  Lebih suka kelihatan gaul, keren, beken dan dengan penampilan modies mengikuti trend setter.  Padahal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini memerlukan biaya tidak sedikit.  Lantas apa sebenarnya yang mereka cari? Ekspresi dan aktualisasi diri atau sekedar mengikuti arus.  Itu yang perlu dikaji lebih lanjut.
Di saat sekolah memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sekolah kadang kebingunan.  Bagaimana mengisi kegiatan pengembangan diri.  Meski akhirnya pengembangan diri itu dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk kegiatan.  Tetapi bagi sekolah yang mempunyai kegiatan kepramukaan, kegiatan pengembangan diri bukan lagi halangan.  Malah jika kita cermat, di dalam kegiatan kepramukaan banyak potensi ang dikembangkan.  Potensi kegiatan kepramukaan ini dapat dipilah-pilah menjadi berbagai bentuk kegiatan, ketrampilan, keahlian, uji kemampuan dan sebagainya yang merupakan wujud pengembangan diri seorang anak.
Berbagai bentuk pengembangan diri ini terrangkum dalam pasal-pasal pencapaian Syarat Kecakapan Umum (SKU) baik tingkat penggalang atau penegak. Dalam pasal-pasal SKU sudah termaktub kurikulum kepramukaan yang harus dipenuhi seorang anggota pramuka untuk naik tingkat.  Mulai kedisiplinan, kewirausahaan, kesenian, kemampuan kognitif, motorik, afektif, semua lengkap ada dalam SKU.
Hanya permasalahannya, kadang di sekolah Pembina pramuka yang  sudah memiliki kemampuan sebagai Pembina Pramuka yang sudah mengantongi sertifikat belum banyak.  Sehingga kegiatan pramuka acapkali hanya dijadikan ajang refreshing. Latihan rutin, heyking dan kemah akhir tahun. Tindak lanjutnya, masih difikirkan.
Itulah mengapa, kegiatan kepramukaan dari tahun ketahun semakin ditinggalkan. Ikut kegiatan pramuka sekedar menggugurkan kewajiban, karena pramuka sebagai ekstra wajib.  Andai saja kegiatan kepramukaan diberdayakan lebih efektif, bukan mustahil akan menjadi sarana ampuh mencetak calon pemimpin yang lebih mumpuni.  Tidak hanya sekedar sebagai kegiatan pengembangan diri. Terlebih kegiatan kepramukaan mampu menjembatani pembentukan generasi penerus yang siap meretas masa depan yang lebih baik. Laksana falsafah pohon nyiur lambang gerakan pramuka. Semoga. Salam Pramuka.

Kamis, 12 November 2015

MEMBELAJARKAN BILANGAN BULAT DENGAN PECEL LINA


Belajar bilangan bulat itu gampang-gampang susah. Gampangnya, cuma menghitung, susahnya banyak yang salah. Kesalahan ini karena banyak anak yang kurang menguasai konsep dan kurang latihan. Nah, agar anak terlatih dan senang belajar bilangan bulat, perlu media yang sesuai. Salah satunya dengan  dengan media PECEL LINA.
Pecel lina ini menggunakan program power pont dan mic excel. Ingin mencoba, silakan buka tautan di bawah ini.


PECEL LINA HAKIM NOV2015.xls

PECEL LINA HAKIM15.ppt

Rabu, 11 November 2015

PBP bukan PHP



Orang bisa karena biasa. Memulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Begitu nasehat bijak menuturkan bagi orang agar bisa sukses dan bermartabat. Sayang, kenyataan menunjukkan orang Indonesia yang dikenal ramah tamah, sabar, santun, suka menolong, hidup bergotong-royong,tidak mudah menyerah dan punyarasa nasionalis tinggi, mulai luntur. Tengok saja kejadian sehari-hari disekitar dan lewat media.Orang dengan mudahnya membuang sampah sembarangan, merokok seenaknya tanpa memperhatikan sekitar, lebih suka berebut daripada antri, sampai perang antar kampung. Di kalangan pelajar, tawuran merajalela, anak lebih suka bermain gadget daripada membaca buku,tindak asusila merebak, anak lebih suka mengadopsi budaya asing, serta semangat belajar anak-anak kendor.
Coba pembaca perhatikan anak-anak usia sekolah. Sikap hormat anak kepada orang tua dan guru berkurang. Di jam sekolah siswa-siswa berseragam keluyuran,  mulai sore hingga malam hari banyak calon generesi emas ini begitu enaknya menikmati hidup. Nampang di pinggir jalan, duduk santai sambil makan di warung ataupun angkringan pinggir jalan sambil merokok, astaghfirullohal’adziim. Belajar dianak tirikan.
Fenomena di atasnampaknya menggugah perasaan para pengampu negeri ini untuk mengawal anak-anak negeri ini menjadi insan paripurna. Insan yang tangguh, berakhlaqul karimah, nasionalisdan berkompeten.Hanya saja, haruskah segala sesuatu yang berkaitan dengan peri kehidupan ini diformalkan. Terlalu diatur. Ingat, bahwa semakin banyak aturan dibuat, justru akan ditabrak dan bisa mengakibatkan kontra produktif. Para guru bisa merasakan, bagaimana pelaksanaan tata tertib siswa dengan sistem point. Meski aturan sudah disosialisasikan dan disepakati oleh sekolah bersama orang tua wali, toh punishmentnya sering tumpul ketika pointpelanggarannya sudah melampui batas toleransi. Karena alasan kemanusiaan. Ujung-ujungnya aturan tinggallah dokumen hitam putih yang terpajang indah di dinding.Selain itu pelaksanaan program yang tidak merinci teknis pelaporan hanya akan menambah beban kerja yang akhirnya berlalu begitu saja. Apalagi kalimat dalam permen yang menyebut, sekolah yang tidak melaksanakan akan diberi sanksi tanpa menyebut bentuk sanksinya dianggap terlalu dangkal.
Karena sebelum Permendikbud Program Pembudayaan Budi Pekerti diluncurkan, pembiasaan yang dicanangkan sudah banyak dilaksanakan sekolah. Baik yang berdiri sendiri atau terintegrasi dalam kegiatan intra, ekstra maupun nonkurikuler. Jadi PBP hanyalah pengulangan ataupun penegasan. Dengan kata lain hanya bentuk legalitas. Kalau toh PBP ini berhasil, hal ini lebih tergantung kepada kultur sekolah itu sendiri sudah berjalan.Sekolah yang kultur sekolahnya berjalan baik, PBP bukan hal baru. Tetapi sekolah yang kulturnya belum mapan, PBP lebih menjadi beban kegiatan.
Dan karena PBP ini sudah diformalkan, tentu saja harus dilaksanakan sesuai dengan regulasi. Untuk mengukur tingkat keberhasilan pasti ada indikator beserta rubrik evaluasi. Program dijalankan bagaikan angin mengalir saja, sebagai budaya. Tidak perlu harus dengan kawalan ketat. Dengan mengalir, tanpa merasa diawasi, kegiatan lebih alamiah. Monitoring dan evluasi tetap perlu dilakukan secara periodik oleh pihak sekolah sebagai self assesment.
Evalusai dilakukan dalam bentuk keterlaksanaan dan hasil. Keterlaksanaan berdasarkan program, jurnal dan daftar  kegiatan. Sedangkan keberhasilan diukur dengan  melihat fakta dan data yang diperoleh dari isntrumen pengukuran baik dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif.Misalnya, bisa dipantau dari tingkat kebersihan, kenyamanan, tidak adanya corat-coret, tingkat kenakalan dan tentunya prestasi sekolah.
Agar keberhasilannya bisa dilihat dan diamati perkembangannya, hal-hal yang diprogramkan dalam PBPdibuatkan penilaian yang dilaporkan bersamaan dalam pelaporan hasil belajar siswa.Bagi sekolah pelaksana kurikulum 2013, pelaporan implisit dalam penilai sikap spiritual maupun sosial dan penilaian ektra kurikuler. Sedangkan bagi sekolah bukan pelaksana K13, pelaporan bisa implisit dalam mapel Agama dan PKn serta dalam penilaian pembiasaan.
Keberhasilan memang tidak harus terlihat dalam bentuk angka-angka. Perikehidupan sekolah yang berjalan kondusif, aman, nyaman, tentram, minim pelanggaran dan berprestasi adalah salah satu indikator keberhasilan PBP. Hukuman hanya akan membuat orang melaksanakan kewajiban sekedar menggugurkan kewajiban. Kesadaran melaksanakan justru akan membuat keterlaksanaan program berjalan alami dan membuahkan hasil positif.  Sekolah yang tidak menjalankan PBP atau apapun nama kegiatannya,pasti perikehidupan di sekolahnya tidak berjalan baik. Dan masyarakat sekarang sudah pintar. Bisa memilah dan memilih sekolah terbaik. Sanksi formal tidak perlu, sanksi sosial-lah yang akan memberi pelajaran. Masyarakat lebih merindukan sekolah yang mendidik putra-putrinya dengan mental, attitude, spiritul dan intelektual. Jangan sampai PBP hanya sekedar program, agar sekolah bukan PHP, pemberi harapan palsu yang akhirnya ditinggalkan masyarakat. Mau!!!

Rabu, 04 November 2015

MENERTIBKAN ANAK SEKOLAH BERSEPEDA MOTOR



            Batasan umur bagi pengendara sepeda motor kini tak lagi tegas. Banyak anak di bawah umur bebas bersepeda motor ria, diantaranya anak-anak sekolah. Sayang, berkendaranya tidak memakai helm dan  sering membahayakan pemakai jalan lain. Kecelakaan pun sering menimpa mereka hingga merenggut jiwa.
            Alasan mengapa anak sekolah terpaksa bersepeda motor, diantaranya karena kurangnya transportasi umum di jam sekolah. Bahkan di beberapa daerah tidak ada transportasi umum. Padahal jarak rumah ke sekolah jauh. Orang tuanya tidak bisa berkendara atau tidak ada yang mengantar yang memaksa anak-anak ini bersepeda motor sendiri.
Di usia belianya, anak-anak sekolah ini banyak yang belum dewasa cara berkendaranya. Untuk itulah perlu pembinaan bagi anak sekolah tentang berkendara di jalan raya, baik oleh kepolisian atau sekolah. Jika tidak mungkin melarang anak-anak ini bersepeda motor karena alasan teknis, toleransi berkendara bagi anak sekolah perlu diimbangi dengan tindakan. Menertibkan dan menindak yang melanggar, di luar aturan batasan umur syarat wajib pemegang SIM C. Jika mampu, sekolah menyediakan angkutan gratis bagi anak miskin yang rumahnya jauh.

Rabu, 28 Oktober 2015

Pesan Buat Anak Muda



Hampir seabad ikrar itu digaungkan
Tautkan segala perbedaan
Singkirkan kasta yang belenggu
Kebhinekaan diikatkan satu

Satu hati satu jiwa
Gugah sukma kobarkan suara
Gelora  muda singkirkan angkara
Berjuang tak sekedar bicara

Ingat waktu terus melaju
Tak bisa kembali ke masa lalu
Manfaatkan waktu luangmu
Sebelum datang waktu sempitmu

Di tanganmu masa depan dipertaruhkan
Tak cukup berpangku tangan
Bujuk rayu kan slalu menggoda
Iman taqwamu jadi penjaga