Selasa, 27 Januari 2015

Hidup Sehat ala Vagetarian



            Lezatnya daging tidak selalu membawa berkah. Kita masih ingat, politisi parpol tertangkap KPK gara-gara impor daging. Langkanya daging sering dimanfaatkan oknum mencari keuntungan. Harga daging melangit tak terjangkau rakyat kecil. Harapan memperbaiki kualitas SDM terhambat. Walau mengkonsumsi daging berlebih juga rentan penyakit.
            Ketergantungan terhadap daging dapat dikurangi dengan mengubah pola makan.  Beralih mengkonsumsi sayuran. Terbukti orang-orang dulu lebih sehat dan berumur panjang karena banyak mengkonsumsi sayuran. Menjadi vegetarian juga berdampak positif lain. Para vegetarian akan lebih suka menanam sayuran sendiri memanfaatkan lahan pekarangan. Menginginkan sayuran yang sehat dengan pupuk organik.  Hunian semakin sejuk, sehat dan membantu penyerapan air di kala hujan. Sambil bercocok tanam, tubuh juga bugar karena secara tidak langsung berolah raga.
                                                                    

Sabtu, 24 Januari 2015

Manusia dalam box

Mobil murah ramah lingkungan bukan bearti murah harga. Buktinya harganya masih puluhan hingga ratusan juta. Tidak itu saja mobil mini ini ternyata tidak ramah sosial. coba saja tengok mereka yang punya mobil murah itu.siapa orang di luar keluarga yang bisa ikut numpang? Karena ukurannya mini,  keluarga dengan dua anak saja jelas tidak bisa ditumpangi orang lain jadi mobil murah ini identik dengan mobil pelit.
Coba saja kalau mobil murah itu uku ukurannya tetap standar seperti mobil sebelumnya,pasti bisa memuat penumpang lebih banyak. Yaa minimal seperti  mobil pada gambar di atas. Mobil itu memang tidak murah, tetapi multi guna. bisa angkut barang dan manusia. Jadinya mobil multi guna ramah sosial.

Kamis, 15 Januari 2015

Seleksi Moral Duta Sosial



            Sudah banyak artis kesandung narkoba. Sebagai publik figur, kehidupan mereka sering dianut masyarakat, utamanya kawula muda. Tak peduli baik atau buruk. Celakanya, acapkali artis yang cacat moral bak pahlawan usai menjalani sanksi hukum atau sanksi moral masyarakat. Semakin ngetop, bahkan dijadikan duta sosial. Artis hamil diluar nikah menjadi duta anti aborsi, mantan pecandu narkoba menjadi jurkam penyuluhan anti narkoba.
            Penunjukkan artis yang pernah tersangkut kasus hukum dan moral sebagai duta sosial tidaklah tepat. Masih banyak artis atau tokoh lain yang lebih pantas. Pemerintah atau pihak penyelenggara seharusnya selektif memilih duta sosial menyangkut moral. Tidak asal tunjuk mengandalkan kepopuleran. Apalagi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Lebih baik menyelamatkan generasi muda dari pada mengangkat kepopuleran artis  yang terpuruk akibat ulahnya sendiri.

Senin, 22 Desember 2014

IBU ITU WANITA

22 Desember 2014 ini bertepatan dengan hari ibu. hari yang menunjukkan pengharagaan atas eksistensi seorang wanita yang bertindak sebagai istri, dan ibu dari anak-anak. Ibu jaman sekarang bukan lagi wanita lemah yang hanya mengurusi dapur, sumur dan kasur. Ibu sekarang bak seorang panglima. mengomandoi rumah tangga. Merancang,mengelola, melaksanakan hingga membuat keputusan akhir. Meski demikian, sebagai seorang wanita, seorang ibu tidak boleh melupakan jatidirinya sendiri. Sehebat-hebatnya ibu, ibu tetaplah seorang wanita.

Selasa, 09 Desember 2014

REPUBLIK TELO

Bukan bermaksud merendahkan jenis makanan ini. Yaa telo, tanaman yang mudah tumbuh ini biasanya dikiaskan dengan orang yang mempunyai kehidupan serba kekurangan. Bahkan orang yang kemampuannya rendah atau pendengarannya kurang peka sering dikatai" kebanyakan makan ketela".
Makanya ketika pemerintahan baru memprogramkan hidup sederhana, orang lantas latah dengan menyajikan atau menjamu orang dengan makanan tradisional, seperti ketela ini.
Padahal banyak orang/anak yang sehari-hari sudah terbiasa makan ketela dan berangan-angan makan roti harus mengubur angan-angan makan enak. Cukup makan ketela.
Makanya kalau indek SDM Indonesia kalah dengan negara lain,jangan menyalahkan anak apalgi guru. Tetapi salahkan kebijakan yang mencanangkan makan makanan bergizi sedikit, sekelas ketela. Energinya hanya cukup untuk berteriak dan blusukan, bukan untuk berpikir dan membangun dan menciptakan mimpi  indah
Hal ini juga nampak dari penolakan Kurikulum 2013.K13 yang dianggap susah dan berbiaya mahal, dengan mudahnya dibatalkan karena siswanya dianggap susah belajar dan gurunya sulit mengadakan penilaian. Yaa wajar saja, lhawong terbiasa makan telo.Coba,kalau jauh hari makanan bangsa indonesia cukup gizi, pasti tidak mudah mengeluh dan selalu siap menghadapi perubahan. Republik ini dibangun diatas pengobanan jiwa dan raga, bukan dengan telo.

Sabtu, 06 Desember 2014

Waktu Kuliah Dibatasi, Sakit Tuh Di Sini!



            Kalau tidak ada seleksi CPNS, ijazah S1 layaknya barang dagangan. Ditawarkan ke sana ke mari dalam jepitan stopmap. Dari pintu ke pintu, ijazah keluar masuk kantor/perusahaan menanyakan lowongan. Di tangan personalia, IP tinggi bukan jaminan diterima. Malah sering kalah bersaing dengan IP pas-pasan tetapi punya lampiran ketrampilan khusus, mempunyai pengalaman bekerja dan menunjukkan jiwa kepemimpinan gemblengan di organisasi mahasiswa. Yaa, kuliah tanpa berorganisasi ibarat makan tanpa sambal. Hampa. Kuliah sambil bekerja bukan aneh. Tidak hanya karena kepepet kebutuhan, tetapi mahasiswa type ini memang sudah menata karier bagi nasibnya sendiri sejak dini.  Kalau ada yang keteter wajar saja. Tetapi tidak sedikit yang moncer. Kuliah sambil berorganisasi dan bekerja dengan resiko molor setidaknya segaris  dengan kata bijak : berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, satu kali kayuh dua tiga pulau terlampaui.
            Jadi kalau pemerintah memaksakan waktu kuliah S1 maksimal 4-5 tahun nampaknya bertepuk sebelah tangan dengan trend anak kuliah saat ini. Pembatasan waktu sempit hanya akan melahirkan mahasiswa-mahasiswa kutu buku, membentuk generasi sendiko dawuh, penurut dan menunggu petunjuk. Alasan pemerintah terkait kurikulum dan biaya tidak bisa diterima begitu saja. Karena pada dasarnya kuliah atau sekolah bukan hanya untuk menghasilkan lulusan yang ber-IP tinggi, tetapi lebih kepada pembentukan jati diri, membentuk jiwa entrepreneur. Lihat saja tokoh-tokoh nasional, baik yang sukses di pentas politik atau ekonomi dari jaman penjajahan hingga kini. Banyak yang sukses, tidak hanya sekedar kuliah tetapi  berkat tempaan  di waktu senggang kuliah. Entah berorganisasi atau nyambi kerja.
            Memang tidak dipungkiri, dengan aktif berorganisasi ataupun nyambi kerja kuliah sedikit terganggu. Menjadi mahasiswa abadi dengan mengambil jatah maksimal kuliah maksimal 14 semester. Tetapi itulah pilihan hidup. Toh waktu molor bukan cita-cita, tetapi lebih karena keterpaksaan atau memang disengaja untuk mematangkan diri. Yang penting, begitu wisuda siap bersaing. Jika pada akhirnya pemerintah bersikeras membatasi waktu kuliah 4-5 tahun yang berdampak banyak mahasiswa DO, justru dapat menimbulkan 3 aspek. Pertama, calon mahasiswa dari keluarga kurang beruntung yang tidak tersentuh program bidik misi dan berencana kuliah sambil bekerja menjadi ciut nyalinya. Kuliah bagai kemustahilan. Kedua, mahasiswa yang terkena DO akan menderita syndrom minder, merasa dirinya mahkluk lemah yang tidak mempunyai daya saing. Manusia type ini berbahaya, karena akan mempunyai sifat dendam dan menjadi bagian pengangguran intelaktual tanpa gelar. Dan yang ketiga, mahasiswa yang takut DO akan menjadi manusia kutu buku, kurang bersosialisasi dan lebih bersifat ego. Karena motonya kuliah... kuliah ...  kuliah...dan lulus.
            Ini berarti pembatasan waktu kuliah yang semakin pendek belum bisa menghasilkan korelasi positif terhadap kualitas sarjana.  Kuliah hanyalah sebagai bagian untuk membekali generasi dengan ilmu yang lebih aplikatif dan membentuk manusia dewasa paripurna. Sebelum benar-benar terjun ke masyarakat, mahasiswa perlu mengasah ilmu dan dirinya baik dengan berorganisasi atau belajar bekerja. Jika kuliah hanya mengejar target lulus dalam tempo sesingkat-singkatnya justru menghasilkan sarjana instan. Simak saja kampus-kampus yang memprogramkan semester pendek, atau kuliah Sabtu-Minggu. Bagaimana kualitasnya dibandingkan dengan program reguler?
            Tidak ada mahasiswa yang bodoh. Masuknya saja melalui seleksi ketat. Kalau ada mahasiswa lulus hingga batas limit waktu kuliah 7 tahun karena berorganisasi meski secara kognisi pintar, memang hak mereka sebagai warga negara yang berhak mendapatkan pendidikan. Hanya saja alasan dan bagaimana mahasiswa tersebut mencukupi kebutuhan dirinya, itu yang menjadi catatan. Biasanya mahasiswa yang aktif berorganisasi sudah membentuk link. Mereka tidak kuatir dengan masa depannya. Selepas lulus akan lebih mudah bekerja. Selain itu mahasiswa type ini biasanya tidak terlalu menggantungkan diri dari kiriman orang tua. Kuliah, berorganisasi juga nyambi kerja. Dengan kematangan hasil tempaan berorganisasi, kelak jika sudah masuk bursa kerja akan lebih cepat jenjang kariernya.
            Kurikulum tidak ada yang sempurna. Sesuai perkembangan jaman wajar jika dalam peroide tertentu ada perubahan. Tetapi perubahan kurikulum juga sudah memandang jauh ke depan kemanfaatannya, termasuk mata kuliah yang diprogram tentunya. Bukankah dosen-dosen yang diangkat jauh hari sebelum ada perubahan kurikulum juga bisa dan harus menyesuaikan kurikulum baru? Jadi mahasiswa yang molor waktunya lebih dari 4-5 tahun juga tidak perlu dipermasalahkan. Dengan beban SKS atau mata kuliah yang ditetapkan bagi seangkatannya, jika ada perubahan kurikulum biarkan tetap menyelesaikan sesuai program awal. Karena sekali lagi, kualitas mahasiswa tidak hanya dilihat dari IP atau jenis mata kuliah dalam kurikulum yang tersurat tetapi lebih pada nilai-nilai yang tersirat, hidden curicullum. Perubahan kurikulum bukan dihindari, tetapi dijalani dan disikapi.
            Jadi pemerintah masih bisa mencari jalan lain untuk meningkatkan kualitas lulusan kampus dari sekedar membatasi masa kuliah. Kemudahan akses kuliah bagi anak bangsa lebih utama. Biaya kuliah yang terjangkau dan beasiswa bagi yang berprestasi, utamanya dari keluarga kurang beruntung lebih bermanfaat. Untuk meningkatkan mutu lulusan agar siap bersaiang di bursa kerja global, mahasiswa disyaratkan mengusai bahasa asing dan mempunyai lisensi pengalaman bekerja. Apalagi Kemenpan RB sudah mewacanakan moratorium CPNS selama 5 tahun, dan tahun depan mulai berlaku pasar bebas ASEAN. Untuk itu, pembatasan waktu kuliah perlu diubah nomenklaturnya menjadi Pendidikan Keprofesionalan beserta kerja riil dalam jangka waktu 1 tahun untuk berhak mendapat lisensi kerja dengan tenggang waktu kuliah maksimal 6-7 tahun. Hal ini juga merujuk dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan calon pendidik harus punya lisensi guru melalui PPG (Pendidikan Profesi Guru) bagi sarjana apapun, tak terkecuali lulusan FKIP. Tentunya bangsa ini  tidak menginginkan, bahwa kuliah dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya untuk mengejar lulusan sebanyak-banyaknya. Mahasiswa akan merasa dibatasi hak berserikat dalam berorganisasi, hak mendapat penghidupan yang layak dalam bekerja sambil kuliah yang hal  itu dijamin dengan undang-undang. Jngan  terkesan bahwa kuliah hanya untuk orang berduit. Jika ini terjadi, sakitnya tuh di sini!

Rabu, 26 November 2014

TERIMA KASIH GURUKU



TERIMA KASIH GURUKU

Secercah wajah itu masih kuingat
Lembutnya tutur  erat melekat
Goresan kapurmu bagai pesan malaikat
Tajam ilmumu menancap dalam di jidat
Usapan tanganmu masih terasa hangat

Tanpa lelah engkau rajin membimbing
Adu sabar dengan anak-anak mbeling
Tak hiraukan hiruk pikuk sekeliling
Hingga tubuhmu terlihat kurus kering
Bukan karena dihuni cacing

Di atas motor tua kau rajin berkeliling
Sapa anakmu dengan senyum sungging
Suka duka gantian bersanding
Iringi nasib yang terus berguling
Antar anakmu ke puncak paling
Gaji terlambat tak ambil pusing
Asal  periuk tidak terguling

Kini muridmu menuai buah
Hasil tempaanmu yang penuh tuah
Kan ku ingat pesan amanahmu
Tuk mengabdi kepada bangsaku
Teriring kata...
Terima kasih  guruku