Kamis, 23 Juli 2015

SATU JAM BUAT ANAK



Tanggal 23 Juli merupakan Hari Anak Nasional. Hari yang menempatkan anak sebagai sosok yang harus dilindungi, disayang, dan menjadi tumpuan harapan masa depan. Sayangnya, karena kesibukan orang tua keberadaan anak sering terabaikan. Anak pun mencari pelarian dengan kegiatan di luar rumah yang sering tak bisa dikontrol orang tua. Tidak jarang waktu anak habis main game atau nonton TV.
Agar anak mendapat kehangatan kasih sayang dan betah di rumah, ada baiknya di Hari Anak Nasional para orang tua menyisihkan waktu barang sebentar. Satu jam saja. Di waktu sempit ini para orang tua harus bisa memberi kesan mendalam kepada anak, melupakan pernak-pernik pekerjaan. Apa arti materi jika tidak ada perhatian. Harta tidak bisa menggantikan kedudukan orang tua.
Kelak jika sekarang para orang tua mempunyai cukup waktu bagi putra-putrinya, di masa tua mereka akan memetik hasil. Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang masa. Anak akan merasa berhutang budi dan akan merawat orang tuanya hingga saat terakhir. Membentuk anak sholeh yang selalu mendoakan orang tua sebagai penyalur amal di alam baka yang tak terputus.

Rabu, 01 Juli 2015

Laundry uang untuk angpao lebaran



            Uang angpao lebaran tidak harus baru  merupakan bentuk pembelajaran menghargai uang dan hidup hemat. Tetapi menyenangkan anak-anak juga tidak salah. Memang, untuk memperoleh uang baru menjelang lebaran sulit. Kalau tidak mau sabar antri di bank, untuk menukar 1 juta kita kehilangan 100 ribu. Uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, syukur untuk sodaqoh.
Nah, untuk menyiasati uang angpao lebaran agar nampak seperti uang baru ada kiatnya. Yaitu dengan laundry uang. Caranya, sediakan dua wadah berisi larutan campuran asam sitrat dan deterjen. Rendam uang kertas yang kondisinya baik beberapa saat (sekitar 10 menit) ke wadah pertama. Entas dan letakkan pada bidang datar halus, usap dengan jari untuk membersihkan kotoran yang menempel. Setelah itu, masukkan uang ke dalam air bersih. Kemudian masukkan kembali ke larutan di wadah kedua. Keluarkan dan usap permukaannya lagi, masukkan ke air bersih, entas dan angin-anginkan. Jika sudah kering, diseterika hingga permukaannya rata dan kaku. Uang lamapun nampak lebih bersih seperti baru. Pencucian uang ini sekaligus bisa mengecek keaslian uang, karena uang palsu pasti rusak jika direndam dengan larutan asam sitrat. Dan pastinya laundry uang untuk angpao lebaran tidak akan disidik KPK, karena bukan termasuk tindakan  money laundry.

Senin, 22 Juni 2015

Posko Spiritual vs Gendam



Lebaran makin dekat,tukang gendam siapkan siasat. Lebaran menjadi ajang silaturahim akbar masyarakat, utamanya yang ada di perantauan. Mereka berupaya pulang kampung setiap Idul Fitri.  Disamping bekal, oleh-oleh disiapkan untuk sanak saudara. Sayangnya momen seperti ini sering dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab. Tindak kejahatan menghantui pemudik. Salah satunya gendam.. Baik gendam dengan peralatan (seperti membius dengan memberi makanan atau minuman) atau yang berbau magis.
Sudah banyak korban berjatuhan akibat gendam. Tidak hanya harta benda, nyawa pemudik juga terancam. Para pemudik ini perlu pengamanan ekstra. Jika selama ini di posko mudik ada posko kesehatan dan keamanan, perlu ditambah posko spiritual. Petugas posko spiritual terdiri dari paranormal atau tokoh spiritual yang bisa mendeteksi adanya kekuatan mistis yang akan digunakan untuk gendam. Termasuk mengobati pemudik yang terkena gendam bahkan yang terganggu mahluk halus. Setidaknya pelaku gendam berpikir 1000x jika ada di posko mudik ada penangkal gendam.

Kamis, 11 Juni 2015

Retribusi kendaraan jalan desa



Jalan beraspal bukan lagi monopoli masyarakat perkotaan. Kalau kita menyusuri desa hingga pelosok, sudah banyak jalan mulus beraspal. Jalan-jalan ini disamping dibangun dari dana pemerintah, banyak juga dari swadaya masyarakat. Mereka bergotong royong dan urunan membangun jalan untuk memperlancar akses  dan mengembangkan ekonomi masyarakat desa.
Kemudahan ini tidak hanya dinikmati warga setempat. Siapapun dapat memanfaatkannya. Bahkan sering kendaraan angkut/kendaraan berat menggunakannya sebagai jalur alternatif. Ujung-ujungnya jalan lekas rusak. Dan ini perlu dana perbaikan.
Supaya tidak memberatkan warga desa pembangun jalan, untuk perbaikan dan pemeliharaan dapat digalang dari retribusi kendaraan yang melewati jalan hasil swadaya. Mirip jalan tol. Pemerintahan desa membuat aturan retribusi jalan untuk dimintakan pengesahan pemerintah daerah. Sehingga retribusi ini tidak melanggar aturan yang ada. Agar ada rasa tanggung jawab bersama antara pengguna jalan dan warga sebagai wujud penghargaan atas partisipasinya dalam pembangunan

Jumat, 15 Mei 2015

Seragam sekolah: OSIS + Pramuka saja!



Tawuran anak sekolah yang belakangan marak terjadi sangat memprihatinkan. Selain mengganggu masyarakat, juga jatuh korban bahkan meninggal. Penyebabnya pun sepele. Mulai urusan  pacar, ego remaja hingga fanatisme berlebihan pada sekolah. Parahnya lagi tawuran pelajar ini menimbulkan dendam kesumat. Tidak aneh, jika suatu waktu tanpa ada sebab, siswa dari satu sekolah menyerang siswa sekolah lain hanya karena melihat seragamnya. Apalagi saat ini sekolah-sekolah mempunyai seragam khusus yang beda dengan sekolah lain.
Jika keberadan seragam khusus menimbulkan mudlarat, pemberlakuan pakaian seragam sebaiknya dikembalikan kepada khittahnya. Membentuk siswa yang disiplin, rapi dan santun. Anak sekolah cukup berseragam OSIS dan pramuka. Dengan berseragam sama akan menumbuhkan kebersamaan. Dengan hanya dua jenis seragam juga menghemat biaya. Identitas sekolah cukup memasang badge kecil di lengan atau di dada.

Minggu, 10 Mei 2015

Bintalima Usai UN



            Ujian Nasional  bagi anak SMP/SMA usai dilaksanakan, tinggal menunggu hasil UN. Nah, di sela waktu menunggu pengumuman kelulusan, guru dan orang tua dipusingkan dengan keberadaan anak. Di sekolah tidak ada kegiatan akademik sedang di rumah tidak ada yang mengawasi. Waktu anak mubadzir dan menimbulkan rasa was-was.
            Untuk mengatasi hal ini seyogyanya sekolah bersama orang tua membuat program bina mental dan ilmu agama (Bintalima). Caranya, usai UN anak-anak diberi kegiatan positif. Seperti memberi materi tambahan untuk persiapan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, magang kerja atau melakukan kegiatan kemanusian. Untuk menambah pengetahuan agama, guru agama yang sudah tidak banyak tugas mengajar memberi materi agama. Jika pengajar agama kurang bisa mendatangkan ustad dari pesantren. Sekolah atau orang tua juga bisa mengirim putra-putrinya ke pondok pesantren atau ke kampung khusus yang mempunyai program unggulan bagi anak sekolah. Semisal ke kampung Inggris di Pare Kediri. Dengan bintalima anak-anak bertambah pengetahuan, lebih berkarakter, siap menunggu pengumuman UN dan berkompetisi melanjutkan pendidikannya.