Rabu, 01 April 2015

SMK (calon) TKI



Sekolah Menengah Kejuruan makin menjadi primadona. Salah satu alasan utama, setelah lulus bisa langsung bekerja. Baik membuka usaha sendiri atau bekerja pada orang lain. Bagi yang punya modal dan berjiwa entreprenurs, membuka usaha bukan halangan. Yang bermodal pas-pasan dan masih melekat budaya sebagai pekerja/karyawan terpaksa berebut lapangan kerja.
Sementara lowongan pekerjan tidak berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja. Semakin sulit lapangan kerja di dalam negeri. Di sisi lain animo menjadi TKI sangat besar. Hal ini bisa disurvey dan dideteksi. Banyak calon lulusan SMP/SMA yang sudah memprogram menjadi TKI selepas SMA/SMK. Ini perlu ditangkap dan difasilitasi dengan membuka SMK khusus calon TKI.
Di SMK khusus calon TKI lebih diutamakan keahlian yang menjadi primadona permintaan bursa tenaga kerja di luar negeri. Tentu saja aspek bahasa menjadi prioritas dengan model ataupun kurikulumnya dibuat beda. Tidak terlalu banyak mata pelajaran yang bersifat pengetahuan yang biasanya dianggap memberatkan siswa SMK. SMK TKI juga bisa dibuat model akselerasi, 2 tahun lulus. Semakin cepat lulus semangat belajar dan bekerja semakin tinggi.

Selasa, 31 Maret 2015

Sarapan Bersama di sekolah



            Ada hal sepele yang sering dilupakan anak, orang tua dan guru di sekolah, yaitu sarapan. Berbagai alasan mengemuka, mengapa mereka tidak sempat sarapan. Karena sekolah masuk jam ke nol, sibuk, jarak sekolah terlalu jauh atau memang  keadaan ekonomi yang tidak mencukupi . Tentu saja ini berdampak negatif. Anak kurang giat belajar. Guru-guru pun terpaksa mencuri waktu ke kantin untuk sarapan.
            Oleh karena itu, di sekolah perlu diprogramkan sarapan bersama. Setiap pagi sebelum jam pertama dimulai sekitar 20 menit, siswa bersama guru sarapan bersama. Uangnya berasal dari iuran guru, siswa atau sumbangan komite sekolah.. Bagi siswa kurang mampu dibebaskan dari iuran. Konsumsi di kelola koperasi siswa atau orang tua siswa dari keluarga tidak mampu. Dengan cara ini  siswa mempunyai cukup energi mengikuti pelajaran dan memupuk kebersamaan. Para guru lebih berkonsentrasi mengajar dan orang tua kurang mampu mendapat tambahan penghasilan.

Senin, 23 Maret 2015

Gerakan hemat air



           Air kini menjadi barang mahal mahal. Tidak hanya di kota, di desa saja untuk kebutuhan pertanian, para petani harus mengeluarkan kocek lebih dalam untuk menghidupi tanamnnya. Saat ini saja, alam sudah kritis air. Pada waktu hujan banjir di musim kemarau kekeringan.
Langkanya air bersih atau air permukaan, harus menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah. Jika tidak, suatu saat kita akan mengalami krisis air. Untuk itu perlu gerakan hemat air. Diantaranya dengan memasang slogan atau peringatan di tempat umum agar masyarakat hemat dalam pemakaian air. Menegakkan aturan pelarangan pembangunan di kawasan hutan sebagai konservasi air. Menyelamatkan air sungai dari polutan. Agar warga kota masih bisa menikmati penjernihan air sungai. Memberi aturan tegas bagi siapapun, agar tidak sebarangan menyedot air tanah. Serta tidak henti melakukan penanaman pohon di bukit gundul serta lahan tak berpohon.
.

Kamis, 19 Maret 2015

Sehari Siswa Gantikan Tugas Pesuruh sekolah



            Belum semua sekolah mempunyai pesuruh sekolah tetap (PNS). Sebagian masih menggunakan tenaga tidak tetap. Mereka  mulai pagi hingga semua warga sekolah pulang harus menjalankan tugas dengan upah pas-pasan. Karena sudah ada pesuruh sekolah, para siswa kurang menjaga kebersihan sekolah. Ini yang membuat jengkel pesuruh sekolah.
            Guru perlu melatih anak untuk menghargai pekerjaan dan merasakannya. Salah satunya dengan melatih anak melaksanakan tugas-tugas pesuruh sekolah. Para siswa ditugaskan melaksanakan tugas sehari-hari pesuruh sekolah. Menyapu halaman, membuang sampah, membersihkan MCK dan semua ruang kelas,  membuatkan minuman  serta merapikan taman. Terutama bagi siswa yang melanggar kedisiplinan sekolah. Dengan latihan seperti ini siswa terlatih hidup bersih dan bertanggung jawab.

Rabu, 18 Maret 2015

Cergam cerita rakyat



            Kalau pembaca ke toko buku, rak buku khusus anak-anak banyak dipenuhi judul buku produk luar. Dan harus diakui, buku cerita produk luar tersebut sangat menarik. Tidak hanya alur ceritanya, tetapi juga dari segi penampilan. Bergambar penuh warna. Sementara sedikit sekali buku-buku bacaan, utamanya cerita bergambar yang  mengambil latar budaya nasional, termasuk cerita rakyat. Padahal cerita rakyat merupakan kekayaan tak ternilai harganya. Jika tidak diamankan, cerita rakyat Indonesia akan dicuri bangsa lain  lalu dipatenkan. Dan kita terlambat menyadarinya.
Perlu penyelamatan cerita rakyat asli Indonesia. Diantaranya dengan menerbitkan dalam bentuk cerita bergambar (Cergam). Karena kurang tertariknya minat baca terhadap cerita asli nusantara ini juga karena tampilannya kurang menarik.  Dan Gambar merupakan alat komunikasi efektif. Jika anak-anak mulai suka, para penulispun semakin produktif dan menggoda penulis muda mengikuti jejak jadi penulis cergam cerita rakyat.

Kuota PSB Antar Daerah



Setiap warga negara mempunyai hak memperoleh pendidikan berkualitas. Maka tidak heran dalam penerimaan siswa baru (PSB) banyak orang tua berbondong-bondong mencari sekolah bermutu. Meski sekolah bermutu itu di luar kabupaten/kota tempat tinggalnya. Pemerintah daerah juga berlomba menjaring bibit unggul untuk mengangkat nama daerahnya.
Pro kontra PSB pun bermunculan. Kekuatiran putra daerah justru tidak mendapat kursi di wilayahnya sendiri memunculkan usulan, agar siswa dari luar daerah dibatasi. Sementara daerah yang mempunyai bibit unggul juga kuatir bila putra daerah terbaiknya melanjutkan sekolah ke daerah lain.
Untuk itu perlu diadakan aturan bersama PSB antar daerah. Diantaranya ada kuota PSB antar daerah. Agar tidak terkesan antar daerah saling serobot siswa baru. Hal ini juga dimaksudkan supaya terjadi pemerataan kualitas pendidikan. Jangan sampai siswa-siswa terbaik terakumulasi di satu daerah. Sebaliknya pemerintah daerah yang kuatir siswa terbaiknya dibajak daerah lain, hendaknya introspeksi dan terlecut memperbaiki pelayanan pendidikannnya.