Senin, 08 Februari 2016

KORBAN KURIKULUM 2013






Kurikulum 2013 membawa korban. Masih dalam rangkain implementasi K13 utamanya untuk sosialisasi mpermendikbud no 53 tahun 2015 tentang penilaian terbaru K13, sabtu 6 feb 2016 kemarin diadakan sosilisasi dalm bagian inservis ke 3. Sayang, saking gupuhnya atau mungken stress, salah seorang peserta jatuh sakit. Untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, korban di bawa RS. Alhamdulillah tidak terjadi hal yang lebih gawat.
Memang, kurikulum 2013, yang penilaian menjadi salah satu hal yang dianggap memberatkan masih menjadi momok bagi guru. Permen baru juga belum menunjukkan kesederhaan tersebut. Guru masih menunggu akankah akan ada permen baru untuk penilian ataupun pelaksanaan yang lebih sederhana, bisa dilaksanakan dan tidak sekedar laporan-laporan kertas tebal yang sulit dipahami oleh orang tua. Kita tunggu saja!!

Sabtu, 06 Februari 2016

BAHAYA SEKULERISASI PENDIDIKAN



Kejarlah dunia bagai hidup selamanya. Gapai akhirat bagai esok sudah tak bernyawa. Petuah para tetua untuk mengingatkan pentingnya hidup beragama.  Kehidupan yang membawa kebahagian dunia akhirat yang kekal abadi.  Bagaimana anak-anak memperhatikan petuah ini.  Petuah jadul, kuno. Begitu kira-kira anak-anak sekarang kalau dinasehati. Salahkah mereka? Atau memang mereka belum mengerti arti dari pitutur luhur itu.
Kehidupan masyarakat yang terkontaminasi budaya materialistis telah banyak mengubah pola dan gaya hidup manusia. Semua berlomba mengejar materi. Setiap segi kehidupan tidak lepas dari perhitungan untung-rugi, enak dan tidak enak.  Tak terkecuali dunia pendidikan. Meski masih banyak yang memegang idealisme dalam mengelola pendidikan, tidak sedikit lembaga pendidikan yang dirasuki virus sekulerisme. Mencipta manusia handal, intelektual bak berotak komputer. Sayang, kadang lembaga pendidikan jenis ini seperti  hanya mencetak robot.
Pendidikan pun serasa memakai jalur satu arah, menghindari tubrukan.  Mengedepankan otak, menomor duakan budi pekerti.  Memisahkan antara yang langsung terkait dengan tuntutan duniawi dan yang mengarahkan ke jalur ukhrowi. Agama dan budi pekerti jadi menu nomor buncit, seakan terpisah dan dikalahkah oleh mata pelajaran lain. Yaa, pendidikan sudah mengarah sekulerisme. Menghindari tabrakan, tapi malah bisa masuk jurang.
Untuk itulah para pemangku pendidikan harus segera menyadari perlunya membekali anak didik dengan pendidikan akhlaqul karimah. Pendidikan budi pekerti berbasis religi. Pendidikaan  budi pekerti yang bisa dikemas dengan cantik dalam setiap pembelajaran. Sistem pendidikan kita yang masih menganut sistem paket, mau tidak mau harus dimodifikasi.  Sekolah mempunyai wewenang untuk mengembangkan muatan lokal dan melakukan telaah kurikulum.  Sehingga pendidikan budi pekerti dapat menjadi nafas dalam setiap mata pelajaran. 
Minimnya alokasi pendidikan agama, bisa dikembangkan waktunya dengan memanfaatkan waktu yang ada dalam satu pekan untuk menambah penyampaian nilai-nilai peribadatan dan budi pekerti. Memberdayakan guru bimbingan konseling juga alternatif jitu.  Disamping  sebagai tenaga konselor, mereka juga bisa lebih lugas untuk menanamkan pendidikan nilai.
Untuk kesekian kalinya kita semua merasa, bahwa kurikulum kita terlalu padat. Pendidikan budi pekerti belum perlu dibuat sebagai satu mata pelajaran khusus ataupun mata pelajaran pokok. Seperti uraian di atas, setiap guru dapat menyampaikan pendidikan budi pekerti. Para guru sejenis, lewat MGMPS bisa merumuskan penyampaikan pendidikan budi pekerti termasuk pendidikan keimanan dan ketaqwaan pada kompetensi dasar yang akan dibelajarkan. Setiap guru juga membuat buku catatan kepribadian yang nantinya dilaporkan ke guru agama atau PKn sebagai bahan pertimbangan penilaian ataupun untuk kenaikan kelas.
Dengan demikian catatan moral mereka menjadi salah satu penentu keberhasilan belajar di sekolah.  Kita tidak perlu mempermasalahkan, nilai moral/budi pekerti ini posisinya sebagai apa, nomor urut berapa. Sebagai mata pelajaran nomor wahid, atau hanya sebagai bahan pertimbangan yang letaknya nomor buncit. Apalah arti tata urutan jika penerapannya tidak konsisten. Tata urut kadang hanya membuat guru fokus sesaat. Hanya menggugurkan kewajiban, sedang penerapannya ogah-ogahan. Dianggap sebagai apapun, budi pekerti tetap jadi penentu nasib peserta didik.
Dalam penerapannya, pendidikan budi pekerti tidak harus memerlukan sarana prasarana mahal.  Tanpa sarana, pendidikan budi pekerti bisa jalan. Apalagi ada sarana penunjang.  Keberadaan sarana berbasis ICT tentunya lebih memudahkan penyampainnya. Dengan ilustrasi atau media elektronik, anak semakin gamblang  belajar dan mencerna kejadian-kejadian yang bisa dijadikan teladan.  Tanpa sarana seperti itu, pendidikan budi pekerti tetap bisa eksis.
Guru adalah media paling tepat sebagai panutan siswa. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Segala perbuatan guru menjadi cermin bagi anak didiknya.  Bagaimana murid bisa bertutur baik, bertindak sopan santun jika gurunya berbuat berlawanan.  Bagaimana siswa mau diajak belajar agama, sementara gurunya hanya memerintah belaka.  Untuk itulah memanusiakan siswa dan mengasuhnya laksana anak sendiri akan semakin mendekatkan ikatan emosi diantara guru dan siswa.  Bersama-sama siswa melaksanakan apa yang diperintahkan guru lebih memudahkan dan mempertinggi kepercayaan siswa kepada gurunya.  Dan mereka akan berkata, bahwa gurunya tidak sekedar mengajari dan memerintah saja. 
Kalaupun pendidikan budi pekerti dijadikan mata pelajaran sendiri, para penentu kebijakan harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai kurikulum, guru, dan sarana prasarana.  Kurikulum disusun berdasar karakteristik daerah atau sekolah dengan mengutamakan  pembinaan siswa yang paling diperlukan dan yang berkaitan dengan hal-hal  krusial para remaja.  Jangan sampai melaunching program baru, tetapi perangkat pendukungnya belum disiapkan.
Melihat perkembangan jaman yang semakin cepat, seyognya pendidikan budi pekerti ini perlu perhatian serius dari semua pihak.  Orang tua tidak boleh lempar tanggung jawab, guru tidak boleh merasa paling kuasa, sekolah tidak sekedar tempat penitipan, masyarakat tidak boleh  lepas tangan, Dinas Pendidikan juga jangan asal membuat program. Semua perlu saling mengisi dan mengingatkan. Agar anak-anak ini selamat dari racun pergaulan. Terhindar bujuk rayu setan  dan tidak tergulung persaingan global. Kalahnya persaingan bukan hanya pesat dan ketatnya persaingan kesejagadan. Tetapi kita terlalu lambat dan hanya berkutat issue-issue lokal murahan.  Ingat rusaknya budi pekerti bukan hanya karena niat para siswa, tapi juga kelengahan kita semua. Waspadalah!Waspadalah.  

Senin, 01 Februari 2016

Satu Hari Menulis Satu halaman

Ada kekurangan mencolok pada sebagian besar siswa, termasuk para guru. Tidak terampil menulis. Dampaknya ketika siswa dan guru membuat karya tulis, banyak yang kelimpungan. Karena menulis belum membudaya, timbullah penyakit copy paste. Padahal para guru sudah terbiasa membuat perangkat pembelajaran. Termasuk membuat catatan harian ketika mengajar di kelas. Itu adalah modal awal untuk menulis. Apalagi bagi guru bahasa, mereka sering memberi tugas membuat karya tulis kepada siswanya. Ironinya, sang guru sendiri tidak banyak menghasilkan karya tulis.
Langkah ini bisa diawali dengan membudayakan membaca, satu hari satu buku-satu halaman atau satu menit. Memulai dari yang kecil, sedikit dan sederhana akan membuka jalan pikiran. Langkah lanjutannya dikembangkan dalam bentuk kegiatan menulis. Membudayakan menulis dengan cara satu hari menulis satu halaman. Pada tahap awal karya siswa dikumpulkan sebagai tugas. Karya guru dan siswa  terpilih dipampang di mading sekolah. Sebagai motivasi karya terbaik diberi penghargaan, dalam bentuk apapun. Anak yang mempunyai bakat dibina dan ikutkan kompetisi menulis. Kelak akan muncuk pengarang handal, dan para guru tidak kuatir, ketika guru wajib membuat KTI kala naik pangkat.

Minggu, 31 Januari 2016

Masuk perguruan tinggi jalur OSN



            Ada beberapa cara masuk perguruan tinggi, salah satunya melalui jalur prestasi dengan berdasar nilai rapor, prestasi dengan klasifikasi tertentu. Jalur Un yang digadang-gadang menjadi salah altrenatif pintu masuk PT, masih menuai penolakan. Tentuanya banyak pertimbangan, diantaranya melihat kualitas ujian nasional yang masih dibumbui kecurangan. Jalur seleksi prestasi melalui rapor pun juga tak lepas dari noda. Karena nilai rapor yang validitasnya belum baku, model ini dikuatirkan akan melahirkan bentuk kecurangan lain. Dampaknya, kualitas calon mahasiswa terpilih kurang sesuai dengan kualifikasi program pendidikan di PTN.
            Ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk memperoleh bibit unggul. Yaitu  jalur OSN (Olimpiade Sains Nasional). Ajang kompetisi tahunan ini diikuti anak-anak unggulan dari setiap sekolah se-Indonesia. Kualitas mereka dijamin diatas kemampuan rata-rata. Peringkat terbaik pada setiap jenjang (mulai kabupaten hingga nasional), mendapat prioritas. Sedangkan peserta yang memenuhi batas tertentu di seleksi ulang oleh PTN sesuai  syarat program pendidikan yang dipilih. Hal ini untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan melahirkan anak-anak terpilih berkualitas. Apalagi banyak anak-anak unggul ini berasal dari keluarga miskin. Program Bidik Misi PTN akan sangat membantu mereka.

Sabtu, 23 Januari 2016

PENYAKIT GURU MEMINTARKAN SISWA



Para guru tentu banyak yang bertanya dalam hati. Mengapa siswanya tidak  pintar2 meski gurunya merasa sudah mengerahkan segala tenaga. Apa lebih mudah menimpakan kesalahan kepada siswanya, bahwa siwanya memang bodoh. Menurut ilmu pendidikan, tidak ada siswa bodoh. Hanya tingkat kemampuan berpikirnya saja berbeda.

Kekesalan guru melihat siswanya tidak segera mengerti ketika diajar sebenarnya cermin guru itu sendiri. Boleh jadi ada penyakit pada guru sehinggu ilmu yang disampaikan tidak merasuk dalam otak siswa. Beberapa penyakit itu diantara :
1. Guru merasa dirinya sudah lebih baik dari yang lain. Merasa telah banyak berbuat kebaikan kepada siswa.
2. Cepat puas dengan hasil yang sudah diterimanya.
3. Tidak ikhlas dalam berkarya. Dan ini yang paling berat penyakitnya. Mudah mengatakan sulit melaksanakan.

Jika ketiga penyakit ini tidak segra dihilangkan, jangan harap siswa bapak/ibu guru menjadi pintar. Guru bukan menunjukkan kepintarannya di depan siswa, tetapi menjadi tugas guru memintarkan siswanya. Asal penyakit di atas diberangus

Selasa, 12 Januari 2016

PAHLAWAN TRI TURA



HAKIM YANG KU SAYANG

Tak bawa palu
Tak pakai senjata mesiu
Berbondong terjang tirani
Yang membelenggu jeritan anak negeri

Pekikkan tiga tuntutan nurani
Bubarkan PKI musuh abadi
Turunkun harga bentuk kabinet baru
Lahirkan orde baru

Dan kau
Jadi tumbal peluru
Terbujur kaku
Jasadmu jadi saksi bisu

Arief Rahman Hakim pahlawan Tritura
Jasamu selamatkan bangsa dan negara
Hakim-ku sayang engkau pejuang
Sepak terjangmu slalu kukenang