Minggu, 25 September 2016

PTK BUKAN PETAKA





Resume :
Menulis menjadi pekerjaan baru yang dirasa berat oleh guru. Persyaratan  kenaikan pangkat dan sertifikasi guru dalam jabatan menjadikan penulisan karya tulis ilmiah utamanya Penelitian Tindakan Kelas sering menggiring guru mencari jalan pintas. Canggihnya teknologi membius dan meninabobokkan guru dengan budaya copy paste.  Meski sebenarnya PTK bukanlah hal asing bagi guru. Catatan harian guru yang terangkum dalam jurnal kelas bisa digunakan sebagai modal awal guru dalam pembuatan PTK.  Jadi PTK bukan lagi petaka bagi guru.

            Persyaratan apa yang paling berat ketika guru mengikuti sertifikasi atau mengajukan kenaikan pangkat? Yaa, salah satu persyaratan terberat adalah membuat karya tulis ilmiah Penelitian Tindakan kelas (PTK). Kalau waktu yang disediakan untuk mengumpulkan karya tulis ilmiah PTK hanya satu atau dua minggu, apa yang akan ditempuh?  Copy paste, ”menjahitkan” atau beli PTK ”built up”?  Boleh jadi jalan pintas itu akan ditempuh.  Begitu kira-kira jalan pikiran paling praktis. Padahal masih ada jalan keluar elegan yang baik.
PTK janganlah dianggap guru sebagai petaka. PTK tidak lebih dari catatan harian guru dalam pembelajaran sehari-hari. Tanpa disadari guru yang mengajar dengan persiapan baik, menggunakan jurnal mengajar untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ataupun kegagalan dalam pembelajaran telah mendokumentasikan sebagian instrumen untuk menyusun laporan PTK.  Pengalaman yang dituangkan di jurnal kelas laksana diary guru untuk menggambarkan tindakan riil dalam mencari solusi memajukan pembelajaran
Apa yang ditakutkan guru untuk membuat PTK tidak beralasan sama sekali. Yang diperlukan hanya kemauan untuk menulis, menuangkan buah pikiran dari kenyataan yang dihadapi di kelas dan melengkapi instrumen. Kurangnya referensi pendukung sering membuat tidak ”pede” dalam  menulis dari apa yang diyakini guru itu benar sesuai dengan tindakan nyata yang telah dilakukan. Terlebih tinakan itu terbuki memberikan nilai tambah bagi kemajuan pembelajaran. Kadang Pembelajaran inovatif guru yang mungkin belum pernah dilakukan orang lain  menjadikan  guru tidak yakin dengan apa yang ditulisnya.   Akibatnya karya yang dikerjakan tersebut tidak terdokumentasi sebagai suatu tindakan inovatif. Menjadi karya tanpa berkas laporan meski hasilnya bermakna. Jika teori pustaka yang langsung berkaitan dengan inovasi belum ada, guru hanya memerlukan teori pendukung yang secara tidak langsung berkaitan dengan apa yang telah dilakukan.
Kelemahan lain dalam pembuatan PTK adalah ketakutan untuk berbuat. Takut berbuat kalau apa yang akan dikerjakan salah.  Padahal lebih baik salah karena telah berbuat, daripada tidak pernah salah karena tidak pernah berbuat.  Kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran menjadikan PTK lebih berwarna dengan diskusi ilmiahnya yang diperbaiki melalui siklus-siklus tindakan.
Jika persyaratan pendukung PTK telah lengkap guru tinggal meluangkan  waktu untuk menulis.  Menuangkan buah pikiran dalam bentuk tulisan memang bukan barang mudah.  Untuk memulainya perlu ”mood” tersendiri. Cara termudah adalah menulis sesuai apa yang ada dalam angan-angan tanpa mempedulikan terlebih dahulu kaidah bahasa yang benar.  Setelah menjadi kalimat barulah ditata sesuai tata bahasa dan tata penulisan yang benar. Anggap saja ketika menulis seperti kalau orang bicara. Ide yang  mengalir  dalam pikiran ditulis apa adanya. Guru dengan enjoy  menulis sesuai hati nurani. Ada tips sederhana untuk menulis, gunakan hati untuk menulis menuangkan ide, gunakan otak untuk mengedit dan memperbaiki karya tulis.
Waktu tidak dapat diputar balik.  Banyaknya budaya copy paste ataupun jual beli PTK adalah dampak tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik di kala waktu luang.  Sebuah petuah mengingatkan untuk memanfaatkan waktu luang sebelum waktu repot itu datang. Bagi yang belum membuat PTK inilah saatnya mulai menulis.  Jangan menulis hanya karena kewajiban, tapi menulislah karena suatu kebutuhan.  Membuat laporan PTK bukan hal sulit. Kesulitan terjadi karena sebelum melangkah sudah merasa berat. Jika ada kemauan pasti ada jalan.  Kalau membuat PTK bisa dipermudah kenapa dipersulit? Susah cari inspirasi, baca, baca dan baca! PTK, siapa takut?

Tulisan ini dimuat di Jurnal Bioma vol 2 N0 3 bulan April 2016

Jumat, 02 September 2016

ANTI-CORRUPTION TEACHER SUPERCAMP 2016

Kabar gembira bagi guru. KPK membuka lomba menulis bertema ANTI-CORRUPTION TEACHER SUPERCAMP 2016. Dead line 11 Oktober 2016.

Sesuai amanat UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam pasal 6 huruf (d) disebutkan bahwa salah satu tugas KPK adalah melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. Namun, dalam menjalankan tugas dan fungsinya KPK tidak bekerja sendirian. Oleh karena itu KPK ingin melibatkan para tenaga pendidik dalam penulisan literatur antikorupsi.

KPK menyelenggarakan "Anti-Corruption Teacher Supercamp 2016: Guru Menulis Antikorupsi." Bagian penting dalam proyek ini adalah melibatkan para tenaga pendidik dari seluruh Indonesia yang memiliki minat, bakat, atau pengalaman dalam menulis serta memiliki semangat dan komitmen antikorupsi. Proyek ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dalam menyusun materi pendidikan antikorupsi, memperkaya konten atau literatur pendidikan antikorupsi yang dapat dimanfaatkan dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.

Guna meningkatkan kapasitas para tenaga pendidik, sejumlah praktisi dan pemateri berpengalaman di bidang penulisan dan ilustrasi akan memandu dan terlibat di dalam pelatihan. Setiap tenaga pendidik tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Indonesia memiliki kesempatan menjadi peserta pelatihan "Anti-Corruption Teacher Supercamp 2016: Guru Menulis Antikorupsi" dengan terlebih dulu mendaftarkan karya tulisnya berupa cerita bergambar, cerita pendek anak, naskah film pendek, dan komik dengan tema antikorupsi. Sebanyak 50 guru yang dinilai memiliki karya terbaik akan diundang mengikuti pelatihan selama 5 hari di Bali.

Di dalam pelatihan ini, para guru akan mendapatkan:

•    Materi tentang pengembangan ide cerita yang kreatif dan karakter yang kuat dalam sebuah cerita.

•    Materi tentang penyusunan sebuah cerita yang menarik dan sesuai dengan target pembaca.

•    Saran dan bimbingan langsung dari editor, penulis, komikus, pakar, dan akademisi di bidang penulisan.


Hasil dari pelatihan "Anti-Corruption Teacher Supercamp 2016: Guru Menulis Antikorupsi" akan menjadi bahan bagi KPK dalam mengembangkan materi pembelajaran pendidikan antikorupsi di semua jenjang pendidikan di Indonesia.


Lihat laman aslinya di tautan berikut:

http://acch.kpk.go.id/teachersupercamp 




Selasa, 30 Agustus 2016

TERJEBAK

Terpuruk
dalam kubangan kotor
berbalut lumpur
pekat
terjebak dalam permainan
lingkaran setan

tubuh ini lunglai
tulang-tulang layuh
tak mampu sangga
dari tekanan dan godaan
tubuh ini butuh suplemen

Jumat, 26 Agustus 2016

GTT/PTT DAN PROLEMATIKANYA



            Beberapa tahun lalu, profesi guru merupakan profesi alternativ.  Daripada nganggur lebih baik jadi guru saja.  Begitu alasan  mereka. Atau selepas anak-anak lulus SMA, kita bisa menghitung dengan jari. Berapa banyak yang berminat masuk IKIP?  Tapi begitu membaca  koran beberapa waktu lalu, kita mulai bisa melihat trend positif.  Ternyata dalam SMPTN, yang berminat masuk kependidikan naik. Efek tunjangan profesi guru
Semua pasti setuju. Untuk menghasilkan produk terbaik diperlukan pengolah dan wadah yang baik pula.  Naïf, jika mengharapkan hal terbaik tetapi  perancang dan pelaku prosesnya berkualitas rendah. Berbagai indeks yang menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan sepatutnya menjadi pertimbangan utama bagi pemerintah untuk menciptakan lembaga pendidikan sebagai kawah candra dimuka.  Pengelola kawah candradimuka ini harus mempunyai ilmu yang kompeten. Sehingga keluarannya nanti benar-benar siap bersaing di dunia global.  Untuk itulah guru harus benar-benar berkualitas handal.  Kualitas dapat diukur dari kompetensi calon tenaga pendidik.  Beberapa parameter tolok ukurnya dapat diketahui dari kompetensi calon guru. Diantaranya kualifikasi pendidikan, pengalaman, kompetensi  pribadi ataupun sosialnya. Apakah para honorer memenuhi kriteria ini? Bagi yang memenuhi sudah selayaknya mereka diangkat CPNS.  Yang lain antri. Apakah secepatnya para Honda ini segera diangkat?
Melihat perkembangan, rasanya pengangkatan tenaga honorer menjadi  PNS tidak mungkin tuntas tahun 2009.  Apalagi krisis ekonomi sepanjang tahun 2008 menguras anggaran pemerintah.  Pendidikan yang tidak bisa lepas dari dunia politik, mau tidak mau terimbas pergolakan politik tanah air.  Bagamana pendidikan menjadi barang dagangan manis tatkala kampanye, dikalahkan tatkala program pemerintahan baru  mulai dijalankan.  Entah dengan alasan keadaan ekonomi negara yang belum memungkinkan, atau adanya kebijakan baru berdalih dahulu kebijakan pengangkatan tenaga honorer menjadi  PNS masih menyimpan berbagai masalah dan perlu dikaji kembali
            Tetapi janji adalah janji.  Sabdo Pandito Ratu. Bagaimanapun juga  apa yang sudah dijanjikan harus terwujud.  Sisa-sisa tenaga honorer yang sekian tahun menunggu kepastian nasibnya haruslah segera dituntaskan.  Pengisian lowongan formasi baru perlu  menggunakan system proporsional. Antara perekutan dari tenaga hororer dan dari peserta umum.  Tenaga honorer yang diangkat diprioritaskan mempunyai masa kerja terlama dengan masa angkatan honorer  dalam batas waktu yang ditetapkan sejak PP 48/2005 itu ditetapkan . Sehingga tidak terjadi tenaga honorer siluman. Pada penetapan PP tersebut orangnya belum ada, tiba-tiba menjelang pengangkatan namanya nangkring  di urutan terdepan.
Hal ini bisa saja terjadi.  Bisa dilihat pada proses pengangkatan CPNS beberapa waktu lalu.  Penyalahgunaan wewenang dari pimpinan lembaga, pimpinan daerah atau siapapun yang berkepentingan dengan kepegawaian harus diawasi.    Jangan sampai pimpinan mngeluarkan aturan melarang menerima pegawai baru, tetapi di belakang melanggar aturan yang dibuat sendiri. Masuknya tenaga-tenaga honorer siluman pada masa pemberlakuan pelarangan menerima tanaga honorer baru. menjadi preseden buruk dalam pengangkatan PNS jalur Honda.  Untuk itu proses rekrutmen PNS baru perlu pembuktian terbalik terhadap berkas-berkas administrasi dan saksi-saksi yang bertangung jawab terhadap keluarnya berkas administrasi  para Honda. Termasuk juga melibatkan tenaga professional dari luar lingkungan pemda.
Jika sekarang tenaga Honda mempunyai banyak persoalan, perlu inventarisasi  kualifikasi.  Bagi yang masuk kualifikasi, diprioritaskan untuk dapatnya diangkat.  Sesuai dengan kebutuhan dan waktu.  Bagi yang tidak sesuai, mereka diberi pilihan.  Tetap menunggu keluarnya kebijakan baru serta harus menerima kondisi yang ada sekarang, atau diarahkan keluar dari Honda.  Mencari lapangan kerja lain atau membuka usaha mandiri.  Agar peperintah tidak dikatakan sebagai pihak yang tidak bertanggungjawab, mereka yang rela untuk tidak diangkat PNS atau keluar dari jajaran pegawai daerah, mereka diberi pesangon yang nilainya dimusyawarahkan dengan eksekutif dan legislatif.
Hal demikian bukannya tidak akan mendapat  pertentangan. Ketika dalam kalkulasi  ekonomi dan politik sebuaih kebijakan terpaksa dianulir.  Pihak penguasalah yang jadi pemenang. Jikalau para tenaga honorer tidak jadi diangkat. Pemerintah daerah harus menyiapkan solusi alternative.  Rencana A gagal, rencana B dilakukan, begitu seterusnya. Dalam hal ini pemda perlu membuat perda tersendiri, dengan membatasi para pelamar dari luar daerah yang kadang mempunyai daya saing lebih tinggi dalam proses rekrutmen CPNS.
Ketika PP 48/2005 diterapkan, satu sisi banyak para honorer berbahagia.  Disisi lain para lulusan baru merasa hak asasi mereka diberangus. Hak mendapatkan kehidupan layak di tanah airnya sendiri terhadang.  Dan yang sebenarnya lebih memprihatinkan, fasilitas kemudahan ini seakan bertolak belakang dengan usaha pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  Karena, kalau selama sekian tahun para honorer ini kalah bersaiang ketika berkompetisi lewat jalur tes. Hal ini sudah menjadi salah satu tolok ukur kualitas kompetensinya.  Andaikan mereka sadar, dan mempunyai jiwa seorang pejuang sejati.  Lebih baik melepas  pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan tuntutan kompetensinya. Banting setir mencari tantangan baru yang Insya Alloh akan memberikan hasil lebih baik bagi kehidupannya.  Jadi pengangkatan yang berdasarkan usia dan masa kerja adalah suatu hal kontradiktif. Jika ini dilakukan terus, mutu pendidikan juga semakin ketinggalan seiring ketuaan dan ketertinggalan pengetahuan guru yang masih banyak tidak mampu menjawab tuntutan jaman.
Tidak ada system yang sempurna.  Semakin canggih system dibuat, semakin penasaran orang mengelabuhinya. Menjadi guru tidak saja memerlukan keunggulan kognitif saja. Menjadi guru  adalah panggilan jiwa.  Perlu seni dan kreasi  dalam mengelola anak manusia untuk menjadikannya manusia unggul.  Untuk itu proses seleksinya diperlukan berjenjang.   Selain masih menerapkan system tes dan penjaringan administrasi secara fair dan transparan sebagai seleksi awal. Calon guru terpilih menjalani masa kontrak dalam kurun waktu tertentu.  Setelah itu diadakan tes lanjutan untuk pengangkatannya menjadi PNS.  Melalui masa kontrak ini dapat terdeteksi, siapa yang berkeinginan menjadi guru sebagai lahan penghidupan dan siapa yang mendarma bhaktikan kehidupannya sebagai guru.

Rabu, 24 Agustus 2016

VIDEO PERANG SAAT PERINGATAN HUT RI KE 71

Ingin melihat video perang saat peringatan HUT RI ke 71. Klik tautan di bawah ini

https://www.facebook.com/profile.php?id=100006767506631