Rabu, 17 September 2014

Siswa, Presiden dan Kurikulum Baru



Senyum cerah mengembang
Di wajah lugu siswa baru
Tentengan tas berat dipegang
Mantap melangkah duduki bangku
Siswa baru berseragam baru
Sepatu baru berbekal buku baru
Berjajar rapi menghadap kelas
Sambut pelajaran hilangkan malas
Presiden baru Mendikbud baru
Canangkan revolusi mental sbagai pembaharu
Semangat berdikari perangi korupsi
Bermodal kartu sakti siap pandaikan anak negeri
Sementara ... Kurikulum baru mulai berlaku
Ditengah perasaan yang masih galau
Sebaran buku berkejaran dengan waktu
Bagai kitab suci hantarkan ilmu
Siswa...Presiden dan kurikulum baru
Berlomba-lomba tampilkan jati diri
Bangun karakter berbudi pekerti
Sambut masa depan yang siap menanti
Suksesi jangan korbankan anak negeri


Selasa, 09 September 2014

Merajut Titian Generasi Emas Sejak Dini, Kenapa Tidak?

            Pembaca masih ingat syair lagu Puput Melati kala kecil berikut?  1+1=2 ... 2+2=4 ... 4+4=8 ... 8+8=16....    Lagu berbau hitung-hitungan itu begitu femelier di kalangan anak-anak.  Mereka pun fasih melantunkannya. Sekilas orang menerka, anak-anak yang menyanyikan lagu tersebut sudah pintar hitung-hitungan. Apakah anak-anak TK memang sudah pintar menghitung (menjumlahkan) bilangan yang hasilnya lebih dari sepuluh? Coba saja. Kemudian coba lakukan hitung-hitungan pengurangan, bahkan perkalian. Hampir dipastikan, sebagian besar kesulitan.  Mengapa? Ya, karena anak-anak TK hanya hafal. Yang lancar, biasanya ikut les sempoa atau sejenisnya.
             Bagaimana dengan baca tulisnya? Berbeda sedikit dengan berhitung, untuk baca tulis, anak-anak TK lebih lancar. Karena sekolah selain mengajarkan baca tulis juga memberi les. Memang, ada fenomena, ada anggapan bahwa anak TK yang hebat adalah yang sudah pandai membaca, menulis dan berhitung. Maka tak heran, sekolah-sekolah TK pun menawarkan keunggulan dalam calistung. Tengok juga Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ/TPA). Banyak anak-anak kecil seusia anak TK bahkan PAUD sudah lancar membaca tulisan arab. Tidak jauh juga dengan TK bukan?
             Apa kiatnya? Sederhana saja. Metode yang tepat. Jangankan calistung untuk anak normal, untuk anak di bawah usia TK bahkan yang mempunyai kelainanpun jika metodenya tepat tidak ada hambatan untuk menciptakan anak-anak hebat. Pembaca bisa memetik pengalaman dari Deddy Corbuzier misalnya. Dalam tayangan Hitam Putih 17 Juli 2014 diceritakan, bahwa anak Dedi pada awalnya tidak bisa membaca meski sudah dileskan. Karena anak Dedi menderita disleksia, setelah diajar dengan metode khusus, menjadi hebat. Apalagi kalau kita mengikuti acara Hafizd ataupun AKSI Yunior di TV saat Ramadan. Anak-anak yang pengucapannya saja belum lancar, ternyata sudah mampu menghafal Alqur’an ataupun teks pidato dalam waktu singkat.  Melihat hal seperti ini, saya berpendapat, calistung tidak masalah diajarkan di TK. Karena sesungguhnya setiap anak itu mempunyai kemampuan tersembunyi, bahkan kemampuan nyleneh. Anak nakal, anak-anak disleksia,  hiperaktif bahkan anak autispun sebenanrnya mempunyai kemampuan lebih yang rata-rata potensi besarnya tidak terdeteksi sejak dini. Albert Einstein, Tom Cruise ataupun tokoh-tokoh dunia sekelas Agatha Critie, John Lennon ataupun Leonardo da Vinci contoh orang-orang yang punya keterbatasan ataupun kelainan ini mulai kecil ternyata setelah dewasa menjadi orang hebat.
            Suatu perbedaan pandangan pasti ada hikmahnya. Ada plus minus calistung di TK. Dengan calistung diberikan di TK, potensi anak tergarap. Mereka lebih siap kala masuk di SD/MI dan menumbuhkan rasa percaya diri. Sedang kelemahannya, dapat mengganggu perkembangan motoriknya. Mengapa? Karena, jika memfokuskan calistung, anak terbiasa duduk berdiam diri. Aktivitas dan sosialisasinya kurang. Apalagi bagi anak yang kemampuannya sedang-sedang saja. Jika kesulitan calistung  mengakibatkan rasa rendah diri yang dapat membuat anak malas belajar dan bermain.
            Tetapi hidup adalah pilihan. Kita bagian dari dunia. Kita mungkin sering terperangah oleh kemampuan anak-anak kecil seusia TK di manca negara yang dipertontonkan ataupun diberitakan di media. Mereka banyak yang hebat-hebat. Apalagi sering masyarakat, anak dan orang tua dibanding-bandingkan. Maka wajar ada keinginan agar anak negeri ini tidak kalah. Jika para pakar berbekal teori, masyarakat berharap tinggi kepada anaknya, jadilah pengelola taman kanak-kanak berimprovisasi dan melayani keinginan masyarakat. Klop kan? Jadi di lapangan tidak ada masalah.
            Iqra’, bacalah. Begitu agama mengajarkan. Untuk dapat membaca dimulai kapan? Agama juga menuturkan, carilah ilmu mulai lahir hingga akhir hayat. Pengertian membaca pun luas. Tidak hanya membaca huruf latin, tetapi juga mengenal bilangan, huruf arab termasuk menulis. Nah, masalahnya jika membaca itu sudah masuk ranah pendidikan, kapan, seperti apa dan kepada siapa membaca dalam arti sempit itu dimulai di lembaga formal? Karena faktanya, ada saja SD/MI yang melakukan tes calistung ketika PPDB. Maka, sekolah-sekolah TK pun berlomba-lomba mencekoki anak didiknya dengan calistung. Marahkan orang tua? Ternyata tidak. Orang tua lebih senang anaknya di TK diberi calistung.
            Karena, kalau berpijak dengan surat edaran Dirjen Dikdasmen nomor1839/c.c2/TU/2009, sepertinya bangsa ini hanya disiapkan untuk ikut balapan start dari pitstop dengan target juara. Hebat! Hebat! Mengapa demikian? Jelas sekali aturan itu kontraproduktif untuk  kondisi sekarang. Harus diakui, jika sekarang sekolah TK hanya mengajarkan bermain, tanpa embel-embel kemampuan plus termasuk calistung, TK itu akan sepi pendaftar. Pada awalnya TK swasta lebih menggeliat dari pada TK negeri. TK swasta lebih berani berimprovisasi. Aturan dikesampingkan. Yang penting TK-TK itu memperoleh siswa banyak dan orang tua puas karena putra-putrinya memiliki ketrampilan lebih. Tidak hanya calistung, penguasaan teknologi dan bahasa Inggris pun menjadi menu anak-anak TK. Tak mau kalah dengan TK swasta, TK negeri pun latah mengikuti. Aturan tinggal aturan. Nah! Yang perlu menjadi pertimbangan, anak-anak kita adalah pemegang tongkat estafet yang bersaing di dunia global.
            Jadi yang penting bukan boleh dan tidak mengajarakan calistung di TK. Jika di dalam aturan, anak-anak TK ini tidak diperkenankan diberi materi calistung, calistung diberikan sebagai pengayaan. Melalui tes diagnostik,  anak-anak TK dipetakan. Bagi anak yang dinilai mempunyai kemampuan untuk dikembangkan lebih lanjut, bisa diberikan materi calistung. Sedang  yang kemampuannya memang sesuai dengan tingkat berkembangan, bermain sambil belajar, belajar dengan bermain menjadi menu pokoknya. Yang penting, bentuk apapun tambahan muatannya jangan memaksa apalagi membebani anak. Tentunya kebijakan ini tidak bisa mandiri. Pihak TK perlu berkoordinasi dengan SD/MI agar di dalam penerimaan peserta didik baru tidak menyaratkan ataupun melakukan tes calistung. Kelak, calistung anak SD/MI kelas 1 menjadi tanggung jawab guru SD/MI.  Memberdayakan potensi anak TK akan lebih bermanfaat. Anak-anak TK adalah masa lanjutan usia emas. Jika tidak dioptimalkan, rugi besar. Pendidikan anak TK perlu dikemas apik sebagai titian menuju generasi emas agar kelak menjadi generasi yang produktif, inovatif, kreatif dan efektif.


Tulisan ini dimuat di majalah Media edisi september 2014

Sabtu, 06 September 2014

AIR MATA GAZA



AIR MATA GAZA

Di kesunyian bulan suci
Ketika langit Gaza dihias kalam Ilahi
Deru burung besi mengusik emosi
Palestina terancam agresi
Tanah suci itu tak lagi merdeka
Ambisi Israel mengusik jiwa
Membuka luka meniup bara
Batu dan peluru beradu laga
Awan kelam selimuti duka
Iringi badan yang terbujur kaku
Ketika nyawa tak lagi berharga
Mata sayu tersayat sembilu
Kumandang Takbir sendu menyayat
Hantarkan tubuh yang menjadi mayat
Mati sahid sebelum datang kiamat
Diiring merdu lantunan sholawat
Tak ada lebaran di Idul Fitri
Tak ada jajanan siap tersaji
Air mata mengucur tiada henti
Rasakan perihnya luka hantar yang mati
Jerit tangis bayi tak mampu gugah nurani
Terkalahkan keangkuhan petinggi Yahudi
            Tatkala  ambisi terus memburu
Nafsu membelenggu singkirkan kalbu
Empati dunia tak lagi digubris
Kekejian Zionis semakin bengis
Ribunya nyawa terbang melayang
Korban angkara penggila perang
            Air mata Gaza terus mengalir
            Sepoi angin sebar bau anyir
Gencatan senjata hanyalah tabir
Seruan kata dianggap bait-bait syair
Tak mampu pastikan perang berakhir
Pekik Takbir dibarter hujan mortir
            Nasib Gaza jangan menunggu takdir

Jumat, 29 Agustus 2014

Moratorium pengadaan mobil baru



Anggota legislatif baru mulai dilantik, mulai tingkat kabupaten/kota hingga pusat pada Oktober nanti.  Diawal masa bhaktinya, para wakil rakyat ini masih disibukkan melengkapi alat kelengkapan dewan, mulai ketua hingga pembentukan komisi-komisi. Tetapi, menginjak hari-hari berikutnya, biasanya mereka mulai merancang keperluan rumah tangga, termasuk pengadaan mobil dinas. Agar tidak mencolok dan menimbulkan kecemburuan, pengadaan mobdin legislative kadang dibarengi pengadaan mobdin eksekutif.
Mengingat pemerintahan sekarang memasuki era baru, pengadaan mobdin baru sebaiknya diadakan moratorium. Para pejabat eksekutif dan legislative menahan diri tidak mengagendakan pembelian mobil baru dalam RAPBD/N-nya. Para anggota dewan memanfaatkan mobdin lama. Langkah ini juga bermanfaat untuk segera menarik mobdin lama yang masih dibawa anggota lama, termasuk mencegah dilakukannya lelang mobdin dengan harga jauh di bawah pasaran. Anggaran lebih diutamakan untuk pembangunan yang menyentuh kebutuhan rakyat.

Rabu, 27 Agustus 2014

Rotasi Tempat Duduk di Kelas



            Posisi tempat duduk siswa di kelas rata-rata ada dua macam. Anak laki-laki memilih duduk di belakang, perempuan di depan atau masing-masing mengelompok di satu sisi. Kecenderungan ini berakibat buruk. Kebanyakan anak (laki-laki) yang duduk di belakang kurang konsentrasi yang berdampak pada kemampuan akademiknya. Bisa dicermati di sekolah-sekolah, rata-rata anak yang duduk di depan lebih percaya diri, konsentrasi dan prestasinya lebih baik. Hal ini karena sebagian siswa beranggapan, posisi menentukan prestasi. Sayang dengan posisi itu ada niatan  berbuat curang ketika ulangan, bahkan UN.
            Mumpung baru masuk usai liburan, guru-guru di sekolah sebaiknya melakukan rotasi tempat duduk siswa. Pertama, secara periodik posisi siswa yang duduk di bangku depan bergilir menurut alur roda berjalan dengan bangku di belakangnya. Kedua, antar bangku di selang-seling laki-laki dan perempuan. Sehingga setiap jenis kelamin tidak mengelompok jadi satu. Dengan model begini, anak-anak mendapat perlakuan sama dan lebih konsentrasi belajar. Kelak ketika ujian nasional menggunakan 20 kode pun, mereka terbiasa mengerjakan mandiri.