Sabtu, 06 Februari 2016

BAHAYA SEKULERISASI PENDIDIKAN



Kejarlah dunia bagai hidup selamanya. Gapai akhirat bagai esok sudah tak bernyawa. Petuah para tetua untuk mengingatkan pentingnya hidup beragama.  Kehidupan yang membawa kebahagian dunia akhirat yang kekal abadi.  Bagaimana anak-anak memperhatikan petuah ini.  Petuah jadul, kuno. Begitu kira-kira anak-anak sekarang kalau dinasehati. Salahkah mereka? Atau memang mereka belum mengerti arti dari pitutur luhur itu.
Kehidupan masyarakat yang terkontaminasi budaya materialistis telah banyak mengubah pola dan gaya hidup manusia. Semua berlomba mengejar materi. Setiap segi kehidupan tidak lepas dari perhitungan untung-rugi, enak dan tidak enak.  Tak terkecuali dunia pendidikan. Meski masih banyak yang memegang idealisme dalam mengelola pendidikan, tidak sedikit lembaga pendidikan yang dirasuki virus sekulerisme. Mencipta manusia handal, intelektual bak berotak komputer. Sayang, kadang lembaga pendidikan jenis ini seperti  hanya mencetak robot.
Pendidikan pun serasa memakai jalur satu arah, menghindari tubrukan.  Mengedepankan otak, menomor duakan budi pekerti.  Memisahkan antara yang langsung terkait dengan tuntutan duniawi dan yang mengarahkan ke jalur ukhrowi. Agama dan budi pekerti jadi menu nomor buncit, seakan terpisah dan dikalahkah oleh mata pelajaran lain. Yaa, pendidikan sudah mengarah sekulerisme. Menghindari tabrakan, tapi malah bisa masuk jurang.
Untuk itulah para pemangku pendidikan harus segera menyadari perlunya membekali anak didik dengan pendidikan akhlaqul karimah. Pendidikan budi pekerti berbasis religi. Pendidikaan  budi pekerti yang bisa dikemas dengan cantik dalam setiap pembelajaran. Sistem pendidikan kita yang masih menganut sistem paket, mau tidak mau harus dimodifikasi.  Sekolah mempunyai wewenang untuk mengembangkan muatan lokal dan melakukan telaah kurikulum.  Sehingga pendidikan budi pekerti dapat menjadi nafas dalam setiap mata pelajaran. 
Minimnya alokasi pendidikan agama, bisa dikembangkan waktunya dengan memanfaatkan waktu yang ada dalam satu pekan untuk menambah penyampaian nilai-nilai peribadatan dan budi pekerti. Memberdayakan guru bimbingan konseling juga alternatif jitu.  Disamping  sebagai tenaga konselor, mereka juga bisa lebih lugas untuk menanamkan pendidikan nilai.
Untuk kesekian kalinya kita semua merasa, bahwa kurikulum kita terlalu padat. Pendidikan budi pekerti belum perlu dibuat sebagai satu mata pelajaran khusus ataupun mata pelajaran pokok. Seperti uraian di atas, setiap guru dapat menyampaikan pendidikan budi pekerti. Para guru sejenis, lewat MGMPS bisa merumuskan penyampaikan pendidikan budi pekerti termasuk pendidikan keimanan dan ketaqwaan pada kompetensi dasar yang akan dibelajarkan. Setiap guru juga membuat buku catatan kepribadian yang nantinya dilaporkan ke guru agama atau PKn sebagai bahan pertimbangan penilaian ataupun untuk kenaikan kelas.
Dengan demikian catatan moral mereka menjadi salah satu penentu keberhasilan belajar di sekolah.  Kita tidak perlu mempermasalahkan, nilai moral/budi pekerti ini posisinya sebagai apa, nomor urut berapa. Sebagai mata pelajaran nomor wahid, atau hanya sebagai bahan pertimbangan yang letaknya nomor buncit. Apalah arti tata urutan jika penerapannya tidak konsisten. Tata urut kadang hanya membuat guru fokus sesaat. Hanya menggugurkan kewajiban, sedang penerapannya ogah-ogahan. Dianggap sebagai apapun, budi pekerti tetap jadi penentu nasib peserta didik.
Dalam penerapannya, pendidikan budi pekerti tidak harus memerlukan sarana prasarana mahal.  Tanpa sarana, pendidikan budi pekerti bisa jalan. Apalagi ada sarana penunjang.  Keberadaan sarana berbasis ICT tentunya lebih memudahkan penyampainnya. Dengan ilustrasi atau media elektronik, anak semakin gamblang  belajar dan mencerna kejadian-kejadian yang bisa dijadikan teladan.  Tanpa sarana seperti itu, pendidikan budi pekerti tetap bisa eksis.
Guru adalah media paling tepat sebagai panutan siswa. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Segala perbuatan guru menjadi cermin bagi anak didiknya.  Bagaimana murid bisa bertutur baik, bertindak sopan santun jika gurunya berbuat berlawanan.  Bagaimana siswa mau diajak belajar agama, sementara gurunya hanya memerintah belaka.  Untuk itulah memanusiakan siswa dan mengasuhnya laksana anak sendiri akan semakin mendekatkan ikatan emosi diantara guru dan siswa.  Bersama-sama siswa melaksanakan apa yang diperintahkan guru lebih memudahkan dan mempertinggi kepercayaan siswa kepada gurunya.  Dan mereka akan berkata, bahwa gurunya tidak sekedar mengajari dan memerintah saja. 
Kalaupun pendidikan budi pekerti dijadikan mata pelajaran sendiri, para penentu kebijakan harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai kurikulum, guru, dan sarana prasarana.  Kurikulum disusun berdasar karakteristik daerah atau sekolah dengan mengutamakan  pembinaan siswa yang paling diperlukan dan yang berkaitan dengan hal-hal  krusial para remaja.  Jangan sampai melaunching program baru, tetapi perangkat pendukungnya belum disiapkan.
Melihat perkembangan jaman yang semakin cepat, seyognya pendidikan budi pekerti ini perlu perhatian serius dari semua pihak.  Orang tua tidak boleh lempar tanggung jawab, guru tidak boleh merasa paling kuasa, sekolah tidak sekedar tempat penitipan, masyarakat tidak boleh  lepas tangan, Dinas Pendidikan juga jangan asal membuat program. Semua perlu saling mengisi dan mengingatkan. Agar anak-anak ini selamat dari racun pergaulan. Terhindar bujuk rayu setan  dan tidak tergulung persaingan global. Kalahnya persaingan bukan hanya pesat dan ketatnya persaingan kesejagadan. Tetapi kita terlalu lambat dan hanya berkutat issue-issue lokal murahan.  Ingat rusaknya budi pekerti bukan hanya karena niat para siswa, tapi juga kelengahan kita semua. Waspadalah!Waspadalah.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar