Sabtu, 06 Juni 2009

DARI TRAGEDI UNAS


JANGAN MENCARI KAMBING HITAM
Hasil telaah BSNP, 33 SMA dan beberapa SMP harus menjalani unas susulan. Karena seluruh siswa dalam satu sekolah dinyatakan tidak lulus unas. Ditengarai, selama unas kunci jawaban beredar bebas. Celakanya, kuncinya salah. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pengawasnya yang lengah, muridnya yang pintar mencuri kesempatan, tim independen yang tidak bekerja semestinya atau entah apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah pengamanannya sudah super ketat? Berlapis, menyaingi pengamanan pemilu. Masih ada tenaga cadangan, Densus 88. Disiapkan, melindungi unas dari ancaman teroris. Sedemikian hebat sistem keamanan disusun, akhirnya jebol juga. Siapa yang salah?
Lagi-lagi kambing hitam yang dicari. Saling lempar tanggung jawab, mencari kesalahan orang lain dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Tidak merasa bahwa terbongkarnya kecurangan karena efek bola salju. Bola salju yang menggelinding di musim kemarau. Menggelinding dari puncak, menelusuri celah-celah tebing. Mengancam dan menghancurkan segala yang dilewatinya. Begitu dampak negatifnya timbul, salju besar itu pecah. Menjadi air bah, menenggelamkan, minimal membasahi yang ada disekitarnya. Sedangkan puncak salju sudah lenyap. Lenyap karena salju dipuncak begitu cepat cair terpancar teriknya mentari di musim kemarau. Yang terkena air tidak bisa melacak asal datangnya bola salju. Puncak salju itu menghilang. Yang ada tinggal puncak gunung yang kokoh menjulang. Bagaimana dengan korban-korban bola salju itu? Para korban harus menanggung sendiri akibatnya. Tak bisa menuntut puncak gunung, yang sebenarnya sumber asal bencana itu.
Siapa sebenarnya yang patut bertanggungjawab dengan kejadian ini? Bagaimana anak-anak bisa memperoleh jawaban. Lengkap satu paket. Tidak mungkin terjadi, dalam waktu singkat siswa mampu membuat kunci jawaban. Dan secara rapi menyebarluaskan ke teman-temannya. Kalau tidak ada kerja sama dengan orang lain. Siapa? Guru, panitia, pengawas, tim independen atau pihak keamanan? Jawabannya juga belum pasti.
Apakah guru, panitia atau pengawas berani menanggung resiko kalau ketahuan memberi kunci jawaban. Kalau tidak ada yang menyuruh, lantas siapa? Guru di bawah pimpinan kepala sekolah. Apa kepala sekolah menyuruh anak buahnya berbuat curang? Tidak mungkin. Kepala sekolah adalah orang bermartabat. Yang mengutamakan berbuat kebaikan daripada mencari nama baik sekolah. Tidak mungkin kepala sekolah mau melakukan pelanggaran tanpa ada tekanan. Lantas siapa?
Dinas Pendidikan kah? Rasanya juga tidak. Pimpinan Dinas Pendidikan adalah orang yang tahu arti pendidikan. Tidak mungkin pejabat yang sudah disumpah melakukan hal-hal yang melanggar sumpah dan janjinya. Sumpah yang bisa menghalangi para pengucapnya memasuki pintu surga. Lebih baik dicopot dari jabatan, daripada memerintah meluluskan siswa dengan cara curang. Hanya pejabat naif saja yang memerintahkan kecurangan. Yang kuatir kehilangan jabatan, karena tidak mampu mengangkat nama baik daerah. Meningkatkan mutu bertameng sukses wajib belajar. Tidak mungkin kepala dinas sebagai ujung tombak pendidikan di daerah menganjurkan kecurangan tanpa ada back up.
Lantas siapa lagi? Kepala daerah atau bahkan kepala negara? Aaah... Rasanya mustahil. Pemimpin bukan orang yang mengorbankan generasi muda hanya demi meraih popularitas. Pemimpin yang baik akan menetapi janji-janji yang sudah diikrarkan. Seorang pemimpin pasti menjalankan roda pemerintahan dengan semangat kerja keras. Nilai kejujuran dan transparansi harus dipegang demi meraih pencitraan dan akuntabilitas publik yang baik. Seorang pemimpin tidak mungkin memikirkan hal kecil, melegalisasi kecurangan unas. Terlalu besar resiko yang harus ditanggung. Masih banyak urusan lain yang harus difikir dan dikerjakan. Hanya pemimpin dholim yang memerintahkan rakyatnya untuk berbuat curang.
Atau pengamanan soal bocor? Itu juga mustahil. Soal unas dijaga ketat. Bisa fatal bila pihak keamanan melakukan pembocoran soal yang dijaganya sendiri. Lucu kan, kalau penangkap pencuri jadi pencuri? Kalau hal itu terjadi, kepada siapa lagi keamanan dipercayakan? Rasanya juga tidak mungkin ada perintah dari langit yang memerintahkan pemimpin untuk berbuat kecurangan. Tuhan tidak perlu nilai unas. Tuhan menyukai para pemimpin yang arif, adil dan bijaksana. Dan kita semua adalah pemimpin. Kelak semua pemimpin akan diminta pertanggungjawaban. Kalau ada pemimpin yang memerintahkan mensukseskan unas dengan cara-cara tidak benar, mereka pasti tergoda nafsu. Nafsu yang tersulut kesombongan dan diamini syetan.
Kita bisa bersepakat, bahwa biang keladi kecurangan ini syetan. Syetan tidak akan marah kalau dijadikan kambing hitam. Toh kalau mereka disalahkan atau dipuja sebagai dewa penolong kecurangan, besok tetap masuk neraka. Syetan tidak perlu hasil unas untuk meningkatkan pamornya. Kepada pemuja syetanlah, para syetan ini bermukim. Syetan hanya takut kepada orang-orang beriman dan bertaqwa. Saat ini para syetan berpesta pora. Merayakan kesuksesan mereka menggoda manusia. Sementara banyak anak, orang tua, guru, kepala sekolah, hingga para pemimpin negeri ini meradang. Panik bak kebakaran jenggot. Kepanikan yang mungkin di luar perhitungan. Kok bisa-bisanya unas diulang. Terjadi kecurangan, karena ada kepentingan. Kepentingan siapa? Kepentingan politik atau kekuasaan?
Jauh hari sudah banyak orang mempertanyakan sistem unas. Mulai pelaksanaan, essensi ataupun hasil unas. Terlalu banyak ekses negatif yang timbul dari sistem unas. Sistem unas dengan standarisasi nilai kelulusan telah menjadikan orang semakin kreatif mensiasatinya. Berbagai temuan dan kajian sudah diungkap. Korban-korban unas sudah berjatuhan. Agar kecurangan yang kasat mata ini tidak terjadi, sebaiknya sistem unas segera dikaji. Sehingga cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa benar-benar terwujud dengan cara yang baik dan benar.
Tidak harus cepat untuk menghasilkan yang terbaik. Tidak perlu dilanjutkan, jika pelaksanaannya tidak sesuai harapan. Hidup adalah perubahan. Kegagalan jangan kemudian mencari kambing hitam. Tapi kegagalan kita jadikan pelajaran untuk menggapai asa yang kita cita-citakan. Smoga.

TULISAN INI DIMUAT DI HARIAN SURYA, JUMAT 5 JUNI 2009


Tidak ada komentar:

Posting Komentar