Selasa, 18 Agustus 2009

MERDEKA

64 tahun lalu bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Merdeka dari penjajahan. Tahun-tahun terus berjalan hingga sekarang. Pahit getir telah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Jika kita cermati dan rasakan, apakah kita sudah merdeka dalam arti sebenarnya? Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan, ya. Tetapi merdeka dari segala hal yang berkitan denga kebutuhan hajat hidup orang banyak, saya rasa belum. Betapa banyak hal terkait ekonomi masih tergantung dan terjajah ekonomi negara lain. Hutang negara kita bermilyar dollar siap menghadang dan mengancam stabiitas ekonomi negeri ini setiap saat. Semangat berdikari yang diutarakan para fouding fathers masih sulit dicapai. Kehidupan demokrasi masih terbelenggu oleh norma, etika dan strata.
Merdeka sebenarnya masih berupa proses yang masih butuh waktu lama.
Penjajah tidak lagi nampak dalam bentuk invasi/agresi. Penjajahan masuk dalam bentuk kamuflase yang tak dapat terdeteksi dengan mudah oleh panca indra. Penjajah kadang kala seperti hantu di siang bolong. Tak kasat mata tapi ada keberadaanya. Yang setiap saat menggerogoti kekayaan. Bagai tuyul pengambil harta. Penjajah kadang menempel bagai benalu. Melekat pada inang pengambil kebijakan. Membisiki penguasa untuk berbuat kedholiman dan membelengu keberdekaan berkreasi dan berekspresi.
Lebih repot lagi kalau manusia terjajah oleh setan. Hidup dirasa enak, tapi sesungguhnya kita dijermuskan ke jalan yang salah.
Kita tidak boleh lengah hanya karena tidak menjadi negeri koloni bangsa lain. Masih banyak ancaman jajahan dalam berbagai bentuk. Jika kita tidak waswada, negeri ini akan tergadai dan menjadi bahan agunan yang siap dilelang oleh penjajah yang bermetamorfosis dalam berbagai bentuk.
Waspadalah, waspadalah. Kita harus tetap Merdeka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar