Kamis, 17 September 2009

ZAKAT, TOLERANSI DAN WAJAH KEMISKINAN

Apa yang kita lihat belakangan ini lewat media, sungguh mengharukan. Beribu-ribu orang antri bahkan berebut sembako yang dibagikan di klenteng atau perseorangan bukan muslim yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin.
Wujud toleransi sesama. Bentuk solidaritas sosial di saat harga sembako membumbung tinggi. Sementara para muzakki juga mempersiapkan zakatnya yang masih dalam perhitungan. Harta yang sudah mencapai satu nisab siap-siap disebar untuk berbagi kebahagiaan menjelang lebaran.
Dikala seperti ini, mungkin saat tepat memotret wajah kemiskinan. Berapa banyak sebenarnya rakyat miskin Indonesia. Akuratkah data-data yang disajikan badan statistik nasional tentang angka-angka kemiskinan? Kalau merujuk data dan fakta, kita bisa berfikir. Ternyata data dan fakta bisa bertolak belakang. Angka-angka yang menunjukkan kemakmuran dengan GNP, telah menutup mata kita dengan realita yang ada. Masih banyak rakyat Indonesia yang hanya untuk makan saja harus berjuang mempertarhkan nyawa.
Hanya untuk memperoleh satu paket bantuan mereka rela berdesakan dan diinjak-injak sesama. Padahal itu hanya untuk kebutuhan pokok. Belum untuk lebaran. Akankah mereka yang berebut itu menikmati idul fitri? Kita tidak tahu. Karena masyarakat kita ini aneh.
Meski untuk makan sehari-hari saja susahnya minta ampun, tetapi kalau lebaran tidak mau kalah dengan selebritis.
Kemiskinan yang dipertontonkan disaat ada bantuan, lenyap seketika. Penderitaan, kesusahan, tangis anak musnah. Mereka nanti akan tampil bak habis meraih kemenangan. Wajah-wajah mereka akan berseri, melupakan hari-hari pahit yang saban hari melekat di diri mereka.
Wajah gembira yang akan dipotret sebagi bentuk kemakmuran Indonesia. Dan Kita akhirnya kelihatan seperti negeri yang sudah makmur.
Ramadan ini adalah potret diri kita. Apakah kita miskin, kaya, baik, jahat, pelit, murah hati. Semua tinggal kita mengekspresikannya. Ekspresi yang sangat tergantung kapan kita akan dipotret. Dipotret untuk mejeng atau dipotret apa adanya, seperti kita baru bangun tidur.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar